Terlalu Berbeda

Mengapa sayapnya tetap berputar
Walau tak satupun kata kuucap padanya
yang begitu tegar untuk berdiri
menyenandungkan lelagu bernada hujan bersyair pelangi
kepada aku yang hanya terpejam.
 
Musik tetap mengalun
Harpa dan biola ikuti iramanya
Ia tunduk membisikkan pelan
“Dengan apa hatimu kan kupenuhi?”
 
Lirih, tajam di antara riuh gelombang sukacita
masih aku tak bisa merasa
Aku tahu tak bisa menjawabnya.
 
Kemudian ku berdiri, berpaling
melangkah tinggalkan ribuan yang datang
menjadi satu yang pergi.
 
Aku di luar opera
menjadi yang sebenarnya
menyedihkan, di jalan aku tak tahu
sayapnya berhenti berputar
lagunya selesai dimainkan
Yang aku tahu
aku tak mau mendukakan
Namun demikian
aku memang tak bisa membahagiakan
Sebab tahukah dia? Aku terlalu berbeda.
 
Manisku sendiri tertelan
Pahitnya yang kutuangkan
perlahan mengering namun tertinggal.

Karanganyar, 30 Maret 2012
-R. Pujasmara

Maret di Akhir Tahun

Kutanya pada cakrawala bumi
mengapa angin sore ini begitu lembut
halus memisahkan daya dan ciptaku
Dedaunan cemara
satu demi satu gugur
kemudian tinggi terbang lagi
dan akhirnya jatuh merapuh
 
Tanah penuh bunga kemerahan
di antara rendah rerumputan
menjadi muara segala derita dan bahagia
meski kadang menabur duka
memisahkan yang tinggal dan tersisa
pada khayal dan nyata
 
Banyak yang terjadi di bumi
Segala yang tercipta tak abadi
seperti siang datang dan pergi
seperti malam datang dan pergi

Karanganyar, 24 Maret 2012
 -R. Pujasmara