Ayam

Ayamku berkokok,
dibawa Ayah sepasang pulang dari pasar
cantik seperti putri salju
dan yang satu sudah tampan seperti burung elang
 
tiap hari mereka pergi ikut ayah bekerja
di kantor sekretariat desa
membantu ayah
menulis laporan dan mencap surat dinas
 
Ayamku makan, tiap hari tiga kali
pagi-pagi membantu ibu masak sayur
siang hari makan gabus bekas kemasan televisi
malam-malam kebingungan
mereka terbang makan serangga
 
Ayamku beranak, lima tiap kali bertelur
yang tidak jadi anak, direbus ibu atau digoreng
sisa makanan adikku diberikan pada mereka lagi
 
Ayamku sekarang suka berkebun
menanam tomat dan cabai hias
bila sudah berbuah sedikit
mereka habiskan sampai ke akarnya
 
Ayamku kini sudah punya keluarga sendiri
anak-anak mereka ada yang sudah berkeluarga juga
yang paling kecil sekarang sudah lulus sekolah
baru saja yang paling besar mempunyai anak
 
Ayamku kini pergi dari rumah
mengontrak rumah di perut ayah
sementara yang lain berlarian kemari-kesana
 
Ayamku yang lain terlalu banyak bermimpi
sebab kemarin kubawa tidur di kasur
sekarang dia kesetanan bicara
 
Sampai tiba-tiba aku bangun dari mimpi
Ya Tuhan! Ini sudah pagi,
majikanku harus bangun
 
KUKURUYUUUUKKK!

Karanganyar, 29 Juli 2013
-R. Pujasmara

Riwayat

Aku tidak pernah berhenti mencintai embun
yang hinggap di bunga-bunga putih kekuningan
berpeluk mesra dalam pagi yang kian hangat
ia angkat segala duka pada sang bunga
ia hapus tangis pada tiap lembaran mahkota
itulah caranya ungkapkan cinta, embun
 
remang terbitnya bunga matahari
pada jingga kebiruan lautan angkasa
menyingkap kunang-kunang langit,
bintang-bintang dan awan debu antariksa
salju-salju awan mengalir di sungai bersama
serta bulan yang masih malu-malu tuk datang tau pergi
 
dan serpihan sayap-sayap merpati
mengering di pelukan Waringin Jayandaru
menghilang di putih puncak-puncak gunung biru
Ujung Giri Kailasa
moksa menjauhi fana
ke awan-awan surga

Karanganyar, 5 Juli 2013
-R. Pujasmara