Bahasa Sunyi

Diam mengatakannya padaku
meraung dalam bahasa sunyi
tentangmu
 
Rengut bibirnya diremas sesal
tak seribu senyum wajahnya menggambar
 
Diam, tempat segala rindu bersemayam
mencintaimu
melebihi semua cinta
yang bisa disampaikan syair puisi dan mahkota bunga
 
Tatap matanya setia
saat kutetapkan pada hati tuk berhenti mencintai
 
Kubuka mata
mendengar semua murka
yang disampaikan diam
bersama kenangan dan angan-angan

Klaten, 13 Maret 2017
-R. Pujasmara

Sepulau Rindu untuk Meirina

Dalam kasih, sedetik rindu, waktu yang terasa begitu beku
menyampaikan doa-doa yang terbata.

Ingin kuceritakan padamu
betapa malam ini begitu mempesona saat ia hanyut oleh pagi.

Fajar yang lahir di padang tempat kita menumpahkan cinta
membangunkan Pohon Rasamala Tua yang tehenyak bisu.

Ia menatap kosong pada kerasnya Lawu bertanya-tanya berangan:
Kapankah kita akan kembali duduk berteduh dari sengat matari dan timpaan hujan.

Aku tak kuasa menatapnya saat ia tahu bahwa setelah sekian lama,
pada hari ini aku datang sendiri tanpa derap langkahmu menemani.

Pohon Rasamala Tua berkata rindu.
Dititipkannya bunga dan embun pagi 
tuk kau cium harumnya dari dunia yang tak tersentuh mata

“Bukankah kau paham ilmu kayu?”, kata Pohon Rasamala Tua tersedu.
Pada waktu itu aku memandang tak mengerti
sampai akhirnya detik ini aku menyadari
bahwa ia simpan nafasmu dalam relungnya.

Dalam sepi aku berpamitan pada Pohon Rasamala Tua
dengan janji yang belum kuketahui cara untuk menepatinya:
“Percayalah, aku akan kembali membawa kenangan yang kau kira sirna.”

Dari Pohon Rasamala Tua di Gondosuli aku mengitari bumi.
Mengunjungi Sindoro, Semeru, Merbabu, Merapi, dan semua
yang memperlihatkan kita indahnya cakrawala seusai badai,
yang mengajarkan kita tentang keikhlasan menerima apapun hasilnya,
yang menggerakkan kita untuk selalu mengejar mimpi,
dan mengingatkan kita untuk selalu kembali menapaki semua liku jalan yang pernah kita susuri.

Maka sepulau rindu kusampaikan padamu, 
dari mereka yang meyakini
bahwa cukup dengan kau pernah ada,
kau akan selalu ada.

Yogyakarta, 28 Februari 2017
-R. Pujasmara

Kami dan Penguasa

Dunia ini kepalsuan yang diciptakan kaum penguasa
 
Kami di sini teriak lapar dan sakit
berharap pada pemberi sesuap nasi
dan dokter yang suntikkan anestesi
 
Mereka bicara ekonomi dan sosial untuk jelata
di balik buta mata kami tentang nyata
Mereka bicara soal etika dan nurani
di balik tuli kuping kami tentang konspirasi
 
Semau mereka
karena memang lupa
kuasa tak akan memberi mereka nyawa ganda
Murka kami
karena mereka seenak sendiri
akan membikin kulit daging mereka diapi

Yogyakarta, 2 Januari 2017
-R. Pujasmara