Seorang Perempuan dan Hujan

Debur angin melempar debu-debu matahari
Arus balik meninggalkan jejak keharuan dalam langkah
di tiang-tiang pembatasnya 
tertempel ludah yang melebar
menjadi kalimat-kalimat yang terpaku
 
Di sana tertuliskan kata-kata yang belum terucap
“Sedang apa engkau menghapus putih dari jalanan?
Tidak bosankah engkau menyemburatkan hitam
sedangkan kenyataan hanyalah kepalsuan yang terbeli
dan kebenaran tak pernah ditemukan artinya
 
Kembalilah kepada keabadian.
Namun engkau kan butuh waktu 
sayangnya aku pun tak miliki
sebab yang berlalu terlewatkan
tak pernah ada saat ini
dan masa depan hanya khayalan
 
Jika perpisahan menjadi arti sebuah pertemuan
berpisahlah dengan raga di senja yang terang
atau di alir petir yang menyayang bumi
dan gemuruh yang mencumbu mendung
 
Semua akan terlupa 
kecuali perasaan bahwa kita melupakannya”

Yogyakarta, 25 Januari 2014
-R. Pujasmara