Antara Negeri Sultan dan Kota Sunan I

~Antara Negeri Sultan dan Kota Sunan 
bagai hilangnya malam-malam~

Bilakah kita berdamai?
Tidakkah kita lagi bertengkar?
Bila harus kuserahkan diri pada keputusasaan

Ada kebodohan yang tak kembali mengesankan
untuk memohon kepada pengampunan
Daripada sebuah prasangka yang tumbuh
dapat merajang sukma

~Antara Negeri Sultan dan Kota Sunan 
ada batu menegak menutup jarak~

Jika esok tetap duka
atau suatu ketika ketika semua biasa
Memangnya akan ada apa?
Kita tak pernah mesra atau jatuh cinta
seperti kita dahulu berdua 

Boleh jadi di situ kamu tak menunggu
Tetapi di sini, aku menanti

Karanganyar, 30 Maret 2013
-R. Pujasmara

Melukis

Aku ingin melukis keindahan
merasuk dunia dalam seni
bayang-bayangkan yang terlalu indah
setidaknya ingin capai pada imaji
 
Dalam angan tergambar angkasa
atau sketsa wajah dalam lamunan
Namun bila terambil kanvas
tiada sebuah warna-warni
justru seribu kata dalam pena hendak tertuang
tertulis syair, lagi-lagi syair
Akhirnya tiada satu
terpajang pada galeria
 
Aku menyerah!
Tak satu karya rupa
menanti tinggali kamar hampa
di sana tersisa sebuah papan
tanpa rasa tanpa makna
 
Ah, bila lukisan itu sekadar
sebuah goresan tinta pada kanvas


Karanganyar, 22 Maret 2013
-R. Pujasmara

Mantra

Di antara ribuan kata
Ku ucap mantra bertuah
Mengharap turunnya wahyu
pada meja-meja kayu
tempat muara beribu ilmu
 
Di seberang mata-mata itu mengawas
Tiap sorotnya mengarah
pada sikap yang menjatuhkan
Di tempat kepala tertunduk
dengan semua berucap
urat kejang mengepalkan diri
beradu keras darah di nadi
 
Oh, bagai tak berguna kitab japa mantra yang ku baca
Dan sejuta malam berlalu
mengapa tiada sebuah ingatan
apa jawab dari sebuah tanya
 
Sementara secarik naskah mungil itu tertawa
sedari tadi kudiamkan tanpa upaya
Haruskah menunggunya?

Surakarta, 18 Maret 2013
-R. Pujasmara

Dendam

Seorang pemuda
di antara usianya yang belia dan dewasa
menatap mega
Tangannya mengepal
tiada sepatah pun kata diucap
namun sorot matanya memberi tahu:
Ada dendam yang harus ku balaskan
 
Berhari hari ia berjalan
menghancurkan hati
memecah darah iga-iga
dalam ketidakmengertiannya memimpin
berpedangkan gigih bertamengkan pilu
 
Hingga dewasa
tatapannya masih sama
hingga ia tetap tak tahu
apakah arti pembalasan
dan kepada dendamnya menuju
 
Mungkin tiada lagi yang lebih pilu
dari kesalahan sebuah pelampiasan
Sebab siapa yang mati?
Adakah yang mengerti?
 
Hari ini ia
menghujamkan pisau karang
yang tumbuh di dalam hatinya

Karanganyar, 17 Maret 2013
-R. Pujasmara

Radang

Di kamar ini kita bercengkrama
sekian lama tak bersua
Ditemani hujan kecil-kecil saja
pada hati kita bicara lirih-lirih saja
 
Dalam cuaca ini telah kubiarkan kau singgah
sementara menanti datang cerah
Menjadikanmu dekat
sebelum akhirnya lalu
 
Jamuan ini cuma secawan air
dan sedikit kudapan pahit
Tiada anggur atau salada
supaya boleh datangmu kecewa
 
Inikah gugup atau hukuman
Entahlah
Tanganku gemetaran dalam genggaman
dan belum kutahu
setepat-tepatnya jawaban

Karanganyar, 13 Maret 2013
-R. Pujasmara

Namun Ku Tak Tahu

Kau tak pernah tahu
bagaimana ku gerakkan awan-awan dalam lukisan
menjadi seindah-indahnya gerak yang kau tahu
 
Kau juga tak akan tahu
bagaimana ku gerakkan daun-daun dalam pandangan
menjadi seelok-eloknya gerak yang kau mengerti
 
Namun ku tak tahu
Bagaimana harus ku gerakkan hatimu
yang pilu
di mana semua tanda yang pasti nyata
tercipta sebagai pengecualian

Karanganyar, 13 Maret 2013
-R. Pujasmara

Di Batas Kota Kita Bertemu

Kita kan bertemu di batas kota
Tempat di mana langit api mencumbu awan kelabu
biru di antara jalanan menderu
 
Kuarahkan dudukku
yang termenung kepada badan jalan
Kulemparkan anganku
pada tiap dua roda yang berputar
Menunggumu
Membunuh waktu
 
Dalam impian semua terpaku
akan kedatanganmu nanti
Bagaimana kita kan berpeluk mesra
erat-erat, sangat teramat erat
seolah hanya itu yang dapat kita lakukan
 
Itu dia kau tiba
Kulangkahkan kaki tanpa jejak menyambutmu
dan
 
Di batas kota kita bertemu
Tubuhku tercerai
Tangismu terurai
Bersama tiap pasang mata yang memalingkan wajah
sambil memperlambat laju

Karanganyar, 7 Maret 2013
-R. Pujasmara

Pembicaraan Malam

Tolong bantu aku mencari kesulitan
agar tertemukan kemudahan dalam mencari makna
dalam rangkaian bait yang kuisyaratkan kepada jiwa
yang ku harap dapat terbuka jauh dari duka luka
 
Mari kita duduk berhadapan
bicara tentang arti rasa
supaya tumpah kepada masa yang didamba
perubahan kepada jiwa yang dewasa
 
Mari membaca sebuah peribahasa cinta
atau berbalas syair nestapa
berlomba-lomba menggunakan metafora
ungkapkan rasa cinta yang tak teriring kecewa
 
Karena kita telah terbiasa pandang-memandang
saling menilai dalam batas yang disimpan sendiri
Menakar sikap menimbang sifat
walau akhirnya tiada alasan yang benar-benar ada
 
Demi seimbangkan rasa dengan cipta
biarlah kita terus bicara
walau dalam maupun tanpa terpaksa
belajar mengerti tentang besaran hati pada penerimaan
 
Mari kita sama-sama merasa rindu
dengan pembicaraan yang mengarah sendu
dalam seketika cinta yang meluap menuju Mayapada
Mengunggah lara mengunduh tawa
 
Sebab kita mencari
Sebab kita meyakini
Mengapa kita?
Mengapa harus kita…

Karanganyar, 7 Maret 2013
R. Pujasmara

Kebahagiaan yang Terlupa

Ada hal yang tak lagi terjadi di pagi
seperti saat berada dalam ruang berbeda
mendengar kata yang tak masuk hati
sementara pikiran kita terbang menuju langit
mencari mimpi yang tinggalkan kita melambung tinggi
sembari bersenandung
di hentakan jantung yang berirama
 
Terkadang bila mengingat semua
tersadar bahwa itu terjadi lama
ketika semua sombong memegang kemudi.
Namun bagaimana bila saat itulah kita berbahagia
meski sekadar melupakan nikmatnya waktu yang semu
 
Bila nanti hidup kembali
kita buang lupa itu dengan syukur yang nyata
lalu cari kesalahan baru yang secepatnya kita taubati.
Pun bila nanti hidup yang kedua kali
 
Akh, bila nanti boleh kita hidup kembali sekian kali
akankah nanti kita akan ingat jua,
bahkan kita pun tak akan hidup untuk yang kedua…
 
Seandainya pun kita memahami dalam hati
pada nyatanya kita tetap dibuat lupa
untuk diberikan bahagia sekadarnya
 
Dan kita dibuat ingat kembali
untuk mensyukuri segala hingga ini
Karena tak semua dapat kita perbaiki sebelum waktu
 
Berbahagialah semua yang terlupa
namun yang teringat meski menderita, juga
Karena bahagia yang sungguh
kita temukan setelah derita

Karanganyar, 4 Maret 2013
-R. Pujasmara

Masa Lalu

Untukmu yang terjauh dari semesta raya
Di akhir tersadari bahwa
saat timbul usaha untuk mendekat
semakin jauh jatuh terpisah

Ribuan bintang pada jarak kita
membentang jauh melebihi millenium-millenium cahaya
Dilepaskan dimensi dalam kerinduan
akan dirimu yang menggebu di antara jalan ketiadaan

Aku ingin kembali padamu
ketika masa ini telah mengurungku rapat
menyuapi sari kesia-siaan
sebagai tuaian tebaran harapan
sementara masa depan datang mengejar

Aku ingin kembali dalam hati yang murni
sebab di masa ini kata maaf sudah tak lagi berarti
Penyesalan tinggallah satu-satunya
aku tebar-tebarkan tanpa lelah tiada henti
meski kau tak kan pernah dapat terkejar
Laksana menanti samudera tertangkap jala

Karanganyar, 2 Maret 2013
-R.Pujasmara