Awan-Awan Berarak Tinggi

Rupanya hari ini sudah pagi
matahari bahkan sudah tinggi
Jangan kau melihatku dulu
terlihat bodoh kau buatku dengan senyumanmu
 
Dan sejak tadi kau pun tak membangunkanku
Ku tahu kau tak ingin mengganggu
namun kau pun tak harus membiarkanku
terlelap lebih lama
hanya untuk menahanku pergi
 
Aku kan di sini
menemanimu menyambut pagi
Tetaplah duduk untuk sebentar waktu
jangan kau beranjak berdiri
mari kuajak sementara memandang biru
ketika awan-awan berarak tinggi
 
Awan-awan di sana kau tahu
bagai impian jauh melambung di angkasa
Sebentar naik sekali-kali turun
menunjukkan kita, terkadang betapa dekat mereka
Kadang pula putih mereka menghitam
bagai asa yang tak selalu sempurna
 
Mereka pun pernah datang pada kita,
entah kecil selembut gerimis,
maupun sekeras badai
Sama seperti impian-impian kita,
kadang kita rasakan baiknya,
kadang kita tertimpa buruknya
 
Namun dari semua baik-buruk itu
akan menciptakan untuk kita keindahan
bagaikan pelangi dengan warna-warni
Namun yang paling berkesan tentu
saat kita mengejar mereka ke gunung tinggi
Terjalnya rintangan tuk menggapai awan
dingin dan keras batuan
harus satu demi satu kita tapaki
hingga tak tersadari semua telah terlampaui
 
Tentu dahulu kala tak dapat terbayangkan indahnya
dunia jauh di bawah kita
atau kala awan-awan terbang di depan mata
 
Di balik awan-awan ini
saat angin perlahan menyingkap mereka
kita baru mengerti bahwa kita telah di sana
 
Hari ini kita mulai lagi
menggapai cita baru
memulai perjuangan hidup
mengejar awan-awan yang berarak tinggi

Karanganyar, 24 Desember 2013
-R. Pujasmara

Antara Negeri Sultan dan Kota Sunan III

Aku pergi lagi dari kota
dalam putaran roda
melihat hati ke hati
melihat awan-awan terbang tinggi
 
Mulai teringat pada zaman ketika mereka hinggap
dan bukit-bukit selatan menjadi biru
dingin seperti laju udara
yang dikirimkan Merapi pada Laut Selatan
 
Bila nanti ku kembali
rangkaian bunga lengkung daun bercerita
di Kota Sunan aku melihat mimpi
yang di Negeri Sultan kan aku miliki
bersama deras debur
yang dikirimkan Merapi pada Laut Selatan
 
Dan bila kepingan-kepingan hujan
dan reruntuhan pelangi
mulai menampakkan matahari yang sembunyi
Aku akan berkata
“Aku tlah tiba pada akhirnya”

Yogyakarta, 23 Desember 2013
-R. Pujasmara

Malam di Tepian Pantura

Hari kembali sore 
ketika roda-roda kembali berputar
melukis keindahan dalam kelambatan laju

Tiada pernah berbeda ketika selera harus dipaksakan 
hanya terpaku pada lukisan yang usai dikemas
digantikan senandung ombak menjelang petang 
lama sekali, hingga angin pun harus kucari 
di tepian keriuhan dan deru

Ada mata tertutup dan nafas yang tertarik 
dalam hembus sensasi didekati gerimis 
membelai malam bulan separuh
memendar dari pekat kaca 
yang menyatu pada wajah lelah

Malam di kota indah dideru taman lampu jemalan
pecah hati sudahi waktu 
semua yang orang tahu suka bicara
ada cerita di dunia tentang itu dan ini
tak terhenti dan tak mau berhenti

Ada kesadaran bahwa 
ketentraman hati terkadang muncul di malam panjang 
Dan bernyala lampu di Jawadwipa 
lambat meredup pandang
buyarkan pesta kecil malam ini 
di tepian pantai utara 

Lebih baik bahagia dalam kepercayaan
sebab air untuk mengguyur badan masih mengalir di bumi

Yogyakarta, 20 Desember 2013
Mengingat satu malam di Pasuruan-Probolinggo
-R. Pujasmara

Menangisi Bumi

Bulan tanpa perasaan
Mata langit tak meneteskan hujan

Jurang jiwa mungkin harap
rinai tangis jatuhlah sahaja
walau bila hati bagai tanah merah
biarkan air berlalu di tebing yang curam
membakar puing-puingnya kemerahan
asal jangan keras menghitam
membolak-balik tanpa alasan

Mengapa hidup harus seperti Desember
berjalan jauh melupakan Januari
bila akhirnya bertemu kembali

Mungkin ada isyarat
bumi sudah lelah menumbuhkan
karena banyak derita ditanggung 
hingga kelak tiada tertampung

Semoga suatu ketika
awal tahun kan kembali
hingga air mata 
menangisi bumi

Yogyakarta, 9 Desember 2013
-R. Pujasmara

Cermin Perak

Bila kutuliskan ke dalam bayang
Tiada ada kulihat senyum
Namun tengok ke dalam
Di sini dunia nyata
 
Aku tiada dapat menghitung kelajuan perpisahan
karena sua, bicara, ruang, dan kebiasaan
Namun semua yang terlupa
kecuali kesedihan
jadi ketidakadanya penerimaan
 
Bila ada sandang yang terasuk
dan rambut yang tersisir
tawa yang tersenyum
itu adalah sekadar dikenang
 
Mungkin bukan sahabat
namun sejak kanak hingga remaja anjak
aku mengenalmu sudah seharusnya
 
Tak ingin adanya keikhlasan
Karena bahagia atau lelah di sini
 
Karena aku yakin suatu ketika
kau dan aku
akan merasakan kebahagian yang sama
atau bahkan lebih dari apa yang dapat terbayang

Karanganyar, 19 November 2013
-R. Pujasmara

Cintaku Seperti Erupsi Hari Ini

Cintaku seperti erupsi hari ini.
Ia rahasiakan dirinya
di balik bayang kelabu
dan awan-awan mendung pagi.
 
Cintaku seperti erupsi hari ini.
Membumbung tinggi,
menghujan deras,
mendebu sesak.
Namun ia tetap mencintai timur
yang tiap pagi ingin ia saksikan.

Yogyakarta, 18 November 2013
-R. Pujasmara

Penyair Malam

Uap hujan mendesah dalam
air hamparan rumput jiwa
matahari terlalu jatuh ke pangkuan cakrawala
 
Malam ini aku meminangnya
dalam alun gerimis nafas
menandai senyumnya dalam kelemahan rasa
dinyanyikan burung hitam-hitam
 
Setelah tiada seorang yang bisa dirindu
malam ini aku bercinta
di awan-awan ranjang sutera
mengguyurkan hujan pada selimut kabut
basahi rumahku dengan irama nafsu
 
Apakah alam pernah lupa membaca waktu?

Karanganyar, 3 November 2013
-R. Pujasmara

Pembunuh

Masa iya, aku hendak hargai kehidupan?
Sebab kematian yang begitu saja
harusnya kemarin aku menyapa dengan sepenuh isi bahasa
atau merangkul dengan sebanyak hitungan
yang disisakan benak pada jemari
 
Maaf.
Iya.
Aku kemarin tidak seharusnya bersikap seperti

Muncul tangisku hentikan hati yang terucap
Senyum itu, akh,
mengapa kita dahulu sering sekali tersenyum
dan tanganmu yang merengkuh
 
Aku sering berkata
mengapa aku harus membiarkanmu hidup.
Mungkin nanti, habis ku bunuh seorang yang lain
seperti waktu ku bunuh hujan, dulu sekali,
biarlah ada kematian buatku
dan perpisahan kita
 
Bila tiba muncul darahku hancurkan dada
yang menyimpan nyawa luka itu, akh,
mengapa kita dahulu sering sekali terluka
dan yang merobek leherku itu
 
Apa nanti aku dan kamu merasa merindukan ketidakadilan?

Karanganyar, 29 September 2013
-R. Pujasmara

…mmm

Malam ini Sungai Serayu begitu sepi
desirnya pun diam
hanya aura dari murninya
membayang menyelimuti angin
 
jangan hiraukan arus cepat
kita jalan pelan-pelan saja
seperti kemarin ketika semua begitu…mmm



Pernahkah kau menyusur jalan ini
di tepian dari hilir ke hulu
yang hanya pergi ke angan jauh
yang tetap putih di tengah kelam
meliputi bintang-bintang
 
Duduklah di sana
meski tak satupun bagian wajahmu terlihat
hanya bayanganmu diterpa cahaya bulan
 
mari kutemani, namun kali ini saja
memandangi gunung kerinduan ini
Sindoro-Sumbing yang begitu muram
 
nanti kita berpisah di sini
tanpa peluk erat
dan tangan menjabat



Sindoro telah menemukan awannya
telah menemukan tanahnya
di sini untuk mencumbu Jawa dengan kasih
Seperti aku menemukan jawaban untuk…mmm

Karanganyar, 16 Agustus 2013
-R. Pujasmara

Bait Patah Hati

Ini adalah rangkaian bait patah hati
Semua diawali dari,
“Sepertinya, kita lebih baik berteman saja”
 
1.
malam, seperti tiada lagi latar cerita yang lebih indah
dan suasana yang lebih membawa hati
kepada hangatnya sebuah penantian
 
2.
denting bintang bersama angin lalu
membawa nada-nada yang menidurkan cahaya matahari
dan sungai-sungai di bulan sana mengalirkan
di antara kepura-puraanya untuk diam
 
3.
awan-awan di atmosfera
membawa gelombang yang tak nampak mata
sejuta kata-kata pujian, kasih sayang
dan suara-suara nyanyian sendu
dari letupan udara
yang beterbangan di atas melodi lagu
meninggikan hujan
menyirap badai
menunggu cuaca
 
4.
malam, kereta api melaju
jarak terasa begitu ngilu
menjeritkan suara
yang berlari-lari mengejar
tidak serangga bernyanyi
atau burung yang berburu
 
5.
tinggal pemuda itu tertidur sekali lagi
seperti kemarin
ketika ia yakin kepada keputusannya
menjadi bulan yang menanti bumi

Karanganyar, 14 Agustus 2013
-R. Pujasmara

Ayam

Ayamku berkokok,
dibawa Ayah sepasang pulang dari pasar
cantik seperti putri salju
dan yang satu sudah tampan seperti burung elang
 
tiap hari mereka pergi ikut ayah bekerja
di kantor sekretariat desa
membantu ayah
menulis laporan dan mencap surat dinas
 
Ayamku makan, tiap hari tiga kali
pagi-pagi membantu ibu masak sayur
siang hari makan gabus bekas kemasan televisi
malam-malam kebingungan
mereka terbang makan serangga
 
Ayamku beranak, lima tiap kali bertelur
yang tidak jadi anak, direbus ibu atau digoreng
sisa makanan adikku diberikan pada mereka lagi
 
Ayamku sekarang suka berkebun
menanam tomat dan cabai hias
bila sudah berbuah sedikit
mereka habiskan sampai ke akarnya
 
Ayamku kini sudah punya keluarga sendiri
anak-anak mereka ada yang sudah berkeluarga juga
yang paling kecil sekarang sudah lulus sekolah
baru saja yang paling besar mempunyai anak
 
Ayamku kini pergi dari rumah
mengontrak rumah di perut ayah
sementara yang lain berlarian kemari-kesana
 
Ayamku yang lain terlalu banyak bermimpi
sebab kemarin kubawa tidur di kasur
sekarang dia kesetanan bicara
 
Sampai tiba-tiba aku bangun dari mimpi
Ya Tuhan! Ini sudah pagi,
majikanku harus bangun
 
KUKURUYUUUUKKK!

Karanganyar, 29 Juli 2013
-R. Pujasmara

Riwayat

Aku tidak pernah berhenti mencintai embun
yang hinggap di bunga-bunga putih kekuningan
berpeluk mesra dalam pagi yang kian hangat
ia angkat segala duka pada sang bunga
ia hapus tangis pada tiap lembaran mahkota
itulah caranya ungkapkan cinta, embun
 
remang terbitnya bunga matahari
pada jingga kebiruan lautan angkasa
menyingkap kunang-kunang langit,
bintang-bintang dan awan debu antariksa
salju-salju awan mengalir di sungai bersama
serta bulan yang masih malu-malu tuk datang tau pergi
 
dan serpihan sayap-sayap merpati
mengering di pelukan Waringin Jayandaru
menghilang di putih puncak-puncak gunung biru
Ujung Giri Kailasa
moksa menjauhi fana
ke awan-awan surga

Karanganyar, 5 Juli 2013
-R. Pujasmara

Antara Negeri Sultan dan Kota Sunan II

Angin berjalan saja menuruni langit
menuju ke tapak-tapak yang telah tercetak di padang gelap
bisik-bisik rumputnya menggelitik
mereka membicarakan cinta
 
Jika beku ini tak sedingin embun malam
aku mau berbaring antaranya bukit-bukit lucu
namun tubuhku pergi ke bulan
yang tiap malam mengirimkan kehangatan
 
Mari kita menggelar tenda
membuka atapnya dan memandang ke langit
menyebelahi bara api unggun yang kadang terkejut terbakar
di depan sepanci susu cokelat dan kopi hitam
tanpa asap rokok
hanya uap air yang mengepul
 
Super moon malam ini
membawaku kembali ke rumah
di antara mimpi
berkemah di savana Merbabu
 
Angin berjalan saja menuruni langit
tanpa jejak
hanya tubuhku tertusuk arus
ada jeda sebelum impian jadi nyata
 
Ini cuma rahasia bulan Juni tersenyum

Karanganyar, 23 Juni 2013
-R. Pujasmara

Terangan Begitu Saja

Namun tidak di sini
di tengah kota keramaian
Aku menampakkanmu di tengah keterdesakan
berusaha menemukanmu dari keputusasaan
karena sebuah tanya
tentang bagaimana hari esok akan datang
bagaikan duka menjalar
bak malam yang menghapus gerimis
 
Ini jadi malam gelap yang biasa
bertabur mendung bulan Juni
sebab mungkin kemarau sudah ragu untuk datang
seperti hujan yang lama-lama juga bimbang untuk pulang
kembali ke lautan teduh
kembali ke wujudnya yang tiada
 
Akan ada banyak kerinduan yang terlukiskan
di sepanjang jalan
seperti garis putih putus-putus itu
seringkali menghilang
namun ia kan selalu di sana menanti sebuah cerita
tentang paraunya kemarau yang ia rindukan

Karanganyar, 14 Juni 2013
-R Pujasmara

Surat dari Entah Siapa untuk Entah Siapa

Aku mau bicara tentang kabut di lembah danau
 
Air di sini sebiru pagi
dan dinginnya bekukan angin
Tiada ikan kecil timbul di muka
hanya bayang-bayang dan bayangan
 
Hujan kemarin bilang padaku
ini nanti, ia mungkin datang lagi
Kau sudah pernah rasakan hujan
atau selama ini kau hanya merasa kebasahan?
Di detik airnya turun
ada suara bernyanyi,
‘tak tik tuk’ tetes berdetakan
begitulah bunyinya
 
Boleh kutidurkan kau di sini?
Tanah di sini sejuk
duri-duri rumput jadi halus
licin-licin lumut jadi lembut
Ayo kita berebah
sambil tersenyum berkaca pada embun
Adakah wajahmu
lebihi indahnya di cermin embun?
 
Danauku
Aku kabut di lembahmu
pergi dari dingin wajahmu yang sebiru pagi
Hingga hujan ini nanti, mungkin membawaku kembali 

Karanganyar, 21 Mei 2013
-R. Pujasmara

Dalam Sebuah

Dingin di sini
Di luar hujan
Aku menunggu kepastian
yang tak kunjung hatiku berikan
Hilir mudik aku pergi mengitari ruang cahaya
aku gelisah tak bisa keluar
tetapi tak kuat harus selalu di dalam
Dari sini kupandangi hujan
ke mana mereka hilang, aku ikuti dengan hati
yang di langit, jatuh
beriring sebuah kata
menitik redam hawa membara
menunggu bintang pagi kembali
jika mereda sebelum senja

Karanganyar, 19 Mei 2013
-R. Pujasmara

Taman Bunga di Sudut Kota

Raung jalanan riuh samudera
Kumandang sore menyambut matahari berpisah
bersama bayang-bayang pergi mengikuti
searah burung hitam di cakrawala

Dalam naung akasia yang duduk ke segala penjuru
tak terpecah angin melangkah pulang,
Sebuah pagar taman di sudutnya kota 
menyusun relief bunga-bunga yang hijau berpermadani 
dihias kupu dan daun beterbangan

Ada khayalanku yang mandi di kolam tengahnya
bersuci diri di dalamnya air tanpa malu atau ragu
bersama suka tawa belaka simfoni angin
yang membawa nafas baru menemukan kesejukan
setelah semalam bercinta dengan neraka kata-kata.

Karanganyar, 15 Mei 2013
-R. Pujasmara

Hanya Ini

Harga sebuah cemburu
cukuplah diungkapkan sebagai rahasia
 
Satu yang menyakitkan
yaitu ketika senyum adalah luka yang harus diukir

Karanganyar, 13 Mei 2013
-R. Pujasmara

Suicide

Ah aku mau belajar melupakanmu
Mungkin nanti debu-debu dalam angin kuajari caranya tuk melupakan terbang
Sebab di luar raga ada nyawa yang berteriak keruh
sampai jenuh mega mendung di ujung jalan surya
 
Bagaimana caranya menghapus prasasti yang terukir dalam kalbu
Haruskah kutemui pemahat baru
menghadapi ancaman bagi hati ‘tuk semakin ciut
atau kuhancurkan hatiku yang terlalu besar untukmu
Aku masih bisa membaginya dengan malam kelam
 
Seperti membaca cerita lama
Aku dirayu gita yang penuturnya maya
Dinding di pungguk memeluk beku dingin suara
 
Kau seperti tatap wajah rembulan kepada hitam senja
Aku terkapar di pembaringan bicara sendiri,
bicara kerinduan
untuk terbang kepada serat-serat tali angkasa
mencari rangkaian bunga kartika di telaga langit
berbuah matahari hujan dan pelangi
turun di pucuk lembah merah
 
Seiring sesal terpahat di ujung jiwa
dengan hati sebening bunga melati
Seputih air mata yang lupa memandang
ku telah bikin tinta lepas dari suratnya
dan segera kertas itu lebur dalam air ini
seperti mati ketika kupaksa tegak racun biru
Aku disambut api
 
Tak semuanya indah seperti bunga kemuning di lereng gunung timur

Karanganyar, 7 Mei 2013
-R. Pujasmara

Sisi Lembah

Di ujung-ujung jembatan kita menunggu
lihat kabut tipis turun
ke hadapan yang terpaku diam tertegun
 
Ketika itu suara terdengar lirih menyayat
namun tak jelas dengarkan teriakan sama lain
katakan semua inginkan sebelum berakhir pada penasaran
sebab tinggal nama-nama jelas terdengar
aku, kamu, hanya itu
 
Haruskah mendekat sementara jembatan ini berusia
Ada yang hilang dan ketakutan datang
Adakah jalan memutar bumi di mana kita bertemu di lain sisi
atau kita bisa lari ke tengah dihempas remuk angin lembah
 
Akankah kita sama-sama jatuh nuju jurang-jurangnya
di sungai putih mengalir memecah batuan gunung
Jangan satu dari kita mencoba khawatirkan berpaling saja
Atau satu dari kita derita karena hanya satu rasakan duka
 
Tak tahu kita di mana
ujung jembatan
atau di ujung dunia

Karanganyar, 6 Mei 2013
-R. Pujasmara

Sajak Penutup Masa Sekolah

Semua mesti melepas masa
dan langkah nuju bentang jalan
Sebelum pembilang angka penutur bahasa 
hilang dari pandang perlahan

Hari ini, kita berkunjung 
menemui suka duka cita dahulu
di dingin siang atau panas hujan 
sebelum pudar dihempas 
sadar membunuh lamunan

Aku mau mengerang! 
sekali di sekeras-kerasnya 
pada kibar angin berkunjung
ku terbangkan s’bagai harap
tunduk cipta, punjung doa

Sebab esok, bila datang terngiang
tiada wajah itu boleh kupandang
dalam rangkaian nyata dikenang 

Walau kadang tak disadari
bahwa kebersamaan adalah kesendirian
dan berakhir pada kesendirian.
Sering kali, yang kita tak mau mengerti:
memiliki adalah bersiap kehilangan.

Padang hijau biarkan hijau 
dan airnya mengalir jernih
walau tak lagi kupandang bintang pagi 
menuju takhta di senyum yang sama 

Sementara ketika, 
lembaran buku tertutup kaku
bersama yang putih-kelabu 
dalam almari terlipat membeku

Karanganyar, 4 Mei 2013
-R.Pujasmara

Berhala Hitam

Merangkak riuh, menegak sakti
Di malam gelap dia tenungkan jiwa
demi tiap lengan mengepal dan bibir hitam menyalak:
Dia! Dia! Dia!

Dia bicara: Aku datang
Dengar tawanya antara jerit api 
cari gembalaannya setan dunia

Kini ia tak lagi tidur di sanggar pamujan
Makan pun tak lagi sesajian
hanya arta terhambur
dan tangisan para belia

Di tengah lapang ia berdiri 
segala penjuru penyembah tiba,
dia bicara: Ayo kita menari di atas api!

Lihatlah mereka jilat merah besi
Keringat darah tersiram
Menculik hati dan merenggut jiwa
Sisakan badan-badan tergerak seperti lalang diterpa
dan keringnya memercik bara

Sudah biarlah atau jangan biarkan mereka bermimpi?
lumpuhkan masa, ledakkan surya, 
dan bicara neraka seolah surga

Jangan sampai terbawa mati 
di tengah-tengah buta hati
Katakan:
Jauh! Jauh!
Kamu manusia
Tapi kamu berhala!

Karanganyar, 3 Mei 2013
-R. Pujasmara

Tanpa Korelasi?

Hujan turun di bulan Mei
Lazimkah itu sayang?
Bahkan kupu-kupu pun merindukan musim pancaroba
segera berlalu

Penghujan kemarin
angin terlambat di Desember
Ia sekali kemarin tak memukul cemara di waktu biasa
Terlalu singkat

Debu selatan mulai menjajaki bumi
dan nafasku tersentak 
oleh serbuk bebatuan yang berlalu-lalu
seperti ada semacam kerinduan antara mereka
Tak perlu menunggu lama 
kepalaku nanti juga pusing sendiri

Dengan seluruh bahasa langit
Awan-awan kabut merah di antara hampa
Dan gemintang gemerlap di jauh akan cahaya
Terbang merayapi kosong tiba setelah tahun sejuta

Setelah segala hari berlalu
Kita mau kemana lagi
Sesudah semua waktu berganti
Kita mau sayang siapa lagi?

Karanganyar, 2 Mei 2013
-R. Pujasmara

Kelam

Menggapai meraba bayang
di suatu tempat di ujung ilalang
oleh api aku berlumur
dingin tetapi pada jemari
 
Ada pohon cantigi terhalau
untuk serpih angin dikibaskan
meski semua bayang diam belaka
malah kini tak bisa ku kena
 
Bayangmu mengapa sunyi?
Tida seperti kamu kemarin
kamu sekarang jauh di mukaan samudera
di sisi lembah kita terpisah
 
Haruskah ku marah pada pagi karena datang?
 
Aku rindukan malam panjang
sebab, kita semua tinggal bayang
aku, kita, satu, jiwa
 
Mengejarmu suatu kali
Aku menunggu!
Hingga dengus marah, duka murka!
Sampai hilang dan meratap
 
Sadar bahwa
hanya malam satukan kita
di mimpi, di hitam bayang-bayang

Karanganyar, 27 April 2013
-R. Pujasmara

Seperti Aku

Adakah batu yang bertanya 
mengapa ia membeku dari pijar?
Adakah awan yang bertanya
mengapa ia hancur dari hitam?
Lalu mengapa aku harus bertanya
mengapa aku beku dan hancur olehmu?

Tidak satupun daun gugur
menginginkan jiwanya kembali
……………
Tidak seperti aku. Tak selesaikan puisi
Namun ingin mengarang lagi


Karanganyar, 12 April 2013
-R. Pujasmara

Alir

Air perlahan mengalir dari mata
pada tiap lekuk jalan-jalan
Menetes terjun
Berkelok panjang
Mengarus
 
Akan kemana
bilamana yang dapat ditempuh hanya semata
Salahkah angan sampaikan berjuta suci
kepada lautan biru
 
Sayangnya mudah terlarutkan
semua yang turut mengikut
hitam putih bumi pula berharap, suatu nanti
kan berkumpul pada samudera
Jangan. Jangan biarkan
gelapnya bermuara serta.
Biarkan sungaiku, suciku
 
Menguaplah hancur
terbanglah saja
siapa rela muaraku kau lumpuri
Bila kau tanah jadilah tanah
Jangan jamahi tetes airku
 
Haruskah air mata airku
selamanya tak bisa memutuskan
Hanya terdesak ikuti keadaan


Karanganyar, 5 April 2013
-R. Pujasmara
 

Antara Negeri Sultan dan Kota Sunan I

~Antara Negeri Sultan dan Kota Sunan 
bagai hilangnya malam-malam~

Bilakah kita berdamai?
Tidakkah kita lagi bertengkar?
Bila harus kuserahkan diri pada keputusasaan

Ada kebodohan yang tak kembali mengesankan
untuk memohon kepada pengampunan
Daripada sebuah prasangka yang tumbuh
dapat merajang sukma

~Antara Negeri Sultan dan Kota Sunan 
ada batu menegak menutup jarak~

Jika esok tetap duka
atau suatu ketika ketika semua biasa
Memangnya akan ada apa?
Kita tak pernah mesra atau jatuh cinta
seperti kita dahulu berdua 

Boleh jadi di situ kamu tak menunggu
Tetapi di sini, aku menanti

Karanganyar, 30 Maret 2013
-R. Pujasmara

Melukis

Aku ingin melukis keindahan
merasuk dunia dalam seni
bayang-bayangkan yang terlalu indah
setidaknya ingin capai pada imaji
 
Dalam angan tergambar angkasa
atau sketsa wajah dalam lamunan
Namun bila terambil kanvas
tiada sebuah warna-warni
justru seribu kata dalam pena hendak tertuang
tertulis syair, lagi-lagi syair
Akhirnya tiada satu
terpajang pada galeria
 
Aku menyerah!
Tak satu karya rupa
menanti tinggali kamar hampa
di sana tersisa sebuah papan
tanpa rasa tanpa makna
 
Ah, bila lukisan itu sekadar
sebuah goresan tinta pada kanvas


Karanganyar, 22 Maret 2013
-R. Pujasmara

Mantra

Di antara ribuan kata
Ku ucap mantra bertuah
Mengharap turunnya wahyu
pada meja-meja kayu
tempat muara beribu ilmu
 
Di seberang mata-mata itu mengawas
Tiap sorotnya mengarah
pada sikap yang menjatuhkan
Di tempat kepala tertunduk
dengan semua berucap
urat kejang mengepalkan diri
beradu keras darah di nadi
 
Oh, bagai tak berguna kitab japa mantra yang ku baca
Dan sejuta malam berlalu
mengapa tiada sebuah ingatan
apa jawab dari sebuah tanya
 
Sementara secarik naskah mungil itu tertawa
sedari tadi kudiamkan tanpa upaya
Haruskah menunggunya?

Surakarta, 18 Maret 2013
-R. Pujasmara

Dendam

Seorang pemuda
di antara usianya yang belia dan dewasa
menatap mega
Tangannya mengepal
tiada sepatah pun kata diucap
namun sorot matanya memberi tahu:
Ada dendam yang harus ku balaskan
 
Berhari hari ia berjalan
menghancurkan hati
memecah darah iga-iga
dalam ketidakmengertiannya memimpin
berpedangkan gigih bertamengkan pilu
 
Hingga dewasa
tatapannya masih sama
hingga ia tetap tak tahu
apakah arti pembalasan
dan kepada dendamnya menuju
 
Mungkin tiada lagi yang lebih pilu
dari kesalahan sebuah pelampiasan
Sebab siapa yang mati?
Adakah yang mengerti?
 
Hari ini ia
menghujamkan pisau karang
yang tumbuh di dalam hatinya

Karanganyar, 17 Maret 2013
-R. Pujasmara

Radang

Di kamar ini kita bercengkrama
sekian lama tak bersua
Ditemani hujan kecil-kecil saja
pada hati kita bicara lirih-lirih saja
 
Dalam cuaca ini telah kubiarkan kau singgah
sementara menanti datang cerah
Menjadikanmu dekat
sebelum akhirnya lalu
 
Jamuan ini cuma secawan air
dan sedikit kudapan pahit
Tiada anggur atau salada
supaya boleh datangmu kecewa
 
Inikah gugup atau hukuman
Entahlah
Tanganku gemetaran dalam genggaman
dan belum kutahu
setepat-tepatnya jawaban

Karanganyar, 13 Maret 2013
-R. Pujasmara

Namun Ku Tak Tahu

Kau tak pernah tahu
bagaimana ku gerakkan awan-awan dalam lukisan
menjadi seindah-indahnya gerak yang kau tahu
 
Kau juga tak akan tahu
bagaimana ku gerakkan daun-daun dalam pandangan
menjadi seelok-eloknya gerak yang kau mengerti
 
Namun ku tak tahu
Bagaimana harus ku gerakkan hatimu
yang pilu
di mana semua tanda yang pasti nyata
tercipta sebagai pengecualian

Karanganyar, 13 Maret 2013
-R. Pujasmara

Di Batas Kota Kita Bertemu

Kita kan bertemu di batas kota
Tempat di mana langit api mencumbu awan kelabu
biru di antara jalanan menderu
 
Kuarahkan dudukku
yang termenung kepada badan jalan
Kulemparkan anganku
pada tiap dua roda yang berputar
Menunggumu
Membunuh waktu
 
Dalam impian semua terpaku
akan kedatanganmu nanti
Bagaimana kita kan berpeluk mesra
erat-erat, sangat teramat erat
seolah hanya itu yang dapat kita lakukan
 
Itu dia kau tiba
Kulangkahkan kaki tanpa jejak menyambutmu
dan
 
Di batas kota kita bertemu
Tubuhku tercerai
Tangismu terurai
Bersama tiap pasang mata yang memalingkan wajah
sambil memperlambat laju

Karanganyar, 7 Maret 2013
-R. Pujasmara

Pembicaraan Malam

Tolong bantu aku mencari kesulitan
agar tertemukan kemudahan dalam mencari makna
dalam rangkaian bait yang kuisyaratkan kepada jiwa
yang ku harap dapat terbuka jauh dari duka luka
 
Mari kita duduk berhadapan
bicara tentang arti rasa
supaya tumpah kepada masa yang didamba
perubahan kepada jiwa yang dewasa
 
Mari membaca sebuah peribahasa cinta
atau berbalas syair nestapa
berlomba-lomba menggunakan metafora
ungkapkan rasa cinta yang tak teriring kecewa
 
Karena kita telah terbiasa pandang-memandang
saling menilai dalam batas yang disimpan sendiri
Menakar sikap menimbang sifat
walau akhirnya tiada alasan yang benar-benar ada
 
Demi seimbangkan rasa dengan cipta
biarlah kita terus bicara
walau dalam maupun tanpa terpaksa
belajar mengerti tentang besaran hati pada penerimaan
 
Mari kita sama-sama merasa rindu
dengan pembicaraan yang mengarah sendu
dalam seketika cinta yang meluap menuju Mayapada
Mengunggah lara mengunduh tawa
 
Sebab kita mencari
Sebab kita meyakini
Mengapa kita?
Mengapa harus kita…

Karanganyar, 7 Maret 2013
R. Pujasmara

Kebahagiaan yang Terlupa

Ada hal yang tak lagi terjadi di pagi
seperti saat berada dalam ruang berbeda
mendengar kata yang tak masuk hati
sementara pikiran kita terbang menuju langit
mencari mimpi yang tinggalkan kita melambung tinggi
sembari bersenandung
di hentakan jantung yang berirama
 
Terkadang bila mengingat semua
tersadar bahwa itu terjadi lama
ketika semua sombong memegang kemudi.
Namun bagaimana bila saat itulah kita berbahagia
meski sekadar melupakan nikmatnya waktu yang semu
 
Bila nanti hidup kembali
kita buang lupa itu dengan syukur yang nyata
lalu cari kesalahan baru yang secepatnya kita taubati.
Pun bila nanti hidup yang kedua kali
 
Akh, bila nanti boleh kita hidup kembali sekian kali
akankah nanti kita akan ingat jua,
bahkan kita pun tak akan hidup untuk yang kedua…
 
Seandainya pun kita memahami dalam hati
pada nyatanya kita tetap dibuat lupa
untuk diberikan bahagia sekadarnya
 
Dan kita dibuat ingat kembali
untuk mensyukuri segala hingga ini
Karena tak semua dapat kita perbaiki sebelum waktu
 
Berbahagialah semua yang terlupa
namun yang teringat meski menderita, juga
Karena bahagia yang sungguh
kita temukan setelah derita

Karanganyar, 4 Maret 2013
-R. Pujasmara

Masa Lalu

Untukmu yang terjauh dari semesta raya
Di akhir tersadari bahwa
saat timbul usaha untuk mendekat
semakin jauh jatuh terpisah

Ribuan bintang pada jarak kita
membentang jauh melebihi millenium-millenium cahaya
Dilepaskan dimensi dalam kerinduan
akan dirimu yang menggebu di antara jalan ketiadaan

Aku ingin kembali padamu
ketika masa ini telah mengurungku rapat
menyuapi sari kesia-siaan
sebagai tuaian tebaran harapan
sementara masa depan datang mengejar

Aku ingin kembali dalam hati yang murni
sebab di masa ini kata maaf sudah tak lagi berarti
Penyesalan tinggallah satu-satunya
aku tebar-tebarkan tanpa lelah tiada henti
meski kau tak kan pernah dapat terkejar
Laksana menanti samudera tertangkap jala

Karanganyar, 2 Maret 2013
-R.Pujasmara

Lagu Tanpa Nada

Ini adalah sebuah laguku untukmu
yang tak bernada atau bermelodi
Indahnya yang kuharap 
kuciptakan lewat kata-kata saja
sambil mengingat elokmu waktu ku memejam mata

Ku ingin membuatnya indah tanpa bising bunyi
Kau baca saja dan kau ingat-ingat
bahwa sukailah laguku itulah pintaku
selagi kau masih bisa merasakan

Kuakui tak hanya sekali aku terlalu melebihkanmu
namun memang beginilah apa adanya
bahwa beserta keyakinan yang muncul mengiring
telah aku temukan sebuah rasa

Laguku ini tak mungkin kupentaskan
sebab lagu ini hanya untuk kau pahami
Seperti rasa ini tak akan kubesar-besarkan
sebab perasaan ini untuk kau resapi

Bila suatu ketika kita bersama
lagu ini pun tetap tak bersuara
Biarkan beginilah adanya
Meski ku musisi tak kenal nada-nada
namun bukan tanpa cinta

Karanganyar, 18 Februari 2013
-R. Pujasmara

Rumah Kita

Aku akan pulang sayang
melihat bunga-bunga kita yang telah bermekaran
kumbang-kumbangnya menghampiri
Ku rindu pada si melati yang putih kecil
harum wanginya yang kuncupnya dulu kau rawat
tenang di antara dedaunan kebunmu
yang selalu kau pupuk
 
Aku ingin segera melihat rumah
menghias ruang keluarga kita
di sana kan kuletakkan gambar-gambar semasa muda
jadi tempat kita bercengkrama
sambil nikmati hangat rumah kita
 
Bila nanti ku kembali
kubenahi genting-genting yang tlah berlubang
atau dinding-dinding yang mulai retak
juga kan ku beri warna baru untuk rumah kita
namun kita takkan melupakan nuansa yang lama
 
Bila badai kan datang
kita kan tetap berlindung
Atau ketika panas menyengat
kita tetap kan bernaung
 
Tunggu aku sayang
Aku akan pulang
Kita bersama merangkai melati di taman
menjadikannya indah pada kumbang yang terbang
semoga kelak mereka menjadi benih subur
untuk selalu menghias rumah kita
Rumah yang kini
Rumah yang nanti

Karanganyar, 15 Januari 2013
-R. Pujasmara

Cerita dari Gunung-Gemunung

Langit mengiring perlahan
langkah kita menjauhi dunia
hingga tersisa alam mimpi
manis bagai rintik hujan yang membawa pelangi
 
Sore itu menjelang malam
Kabut turun seperlahan langit
walau masih beriringan dengan mentari
yang terbenam indah jingga ungu
biru kemerahan
 
Tangan pada genggaman
melangkah dingin kurasakan
telapak yang tak pernah selembut senyuman
terus melangkah tanpa peduli malam menjelang
 
Semakin jauh dari diam
semakin merasa rindu
pada masing-masing pribadi yang kita tinggalkan
Belajarlah bahwa
egoisme dan kesombongan
sedikit demi banyak harus kita tanggalkan
 
Bila teringat, terbayang rasa ingin berhenti
pulang kembali tidur di peraduan
karena wajah-wajah itu semakin terlihat
di cakrawala senja
 
Wajah itu kawan dan sanak keluarga
yang terbeban dengan kesalahan yang kita lakukan
terbayang jelas tetap ikhlas
berdoa lewat mulut-mulut mereka:
“Tuhan lindungan-Mu semoga meliputi mereka di sana”

Langkah kaki semakin pupus
Rasa hati semakin mampus
Karena meski ribuan doa terpanjat pada-Nya
kita ini tetap manusia
Bukan apa-apa melawan alam yang tak terkalahkan
 
Kawan, kita kan terus berjalan
sebab tiada usaha yang sia-sia
sampai kan kita tiba
di tempat angin berkibar gagah
 
Walau kita kan turun kembali
Kita kan capai puncak yang lebih tinggi
Sampai ada yang melebihi ujung Himalaya
 
Kelak atau hari ini
kita pasti tahu
arti indah sebuah hidup

Karanganyar, 11 Januari 2013
-R. Pujasmara