Saat engkau terlalu jauh dalam berdiri
sehingga sinar rembulan yang tersorot dari angkasa
tak dapat kukembalikan padamu,
aku tak bisa menerka
apa yang menahan sudut matamu
sehingga ia tidak mau meneteskan tangis?
Sedang aku di sini meminta rindu yang kuajarkan padamu
sebelum tanganku mampu membilang
hitungan sisa nafas yang mampu ditiupkan pada udara
Apakah sekiranya aku tak bisa mengatakan sesuatu
yang tak terburai dalam angin malam
yang hanya akan kembali pada kobar api
yang membakar dadaku sendiri?
Apakah kau terlalu jenuh untuk merindu
hingga tidur menghentikanmu dari irama sendu?
sehingga sinar rembulan yang tersorot dari angkasa
tak dapat kukembalikan padamu,
aku tak bisa menerka
apa yang menahan sudut matamu
sehingga ia tidak mau meneteskan tangis?
Sedang aku di sini meminta rindu yang kuajarkan padamu
sebelum tanganku mampu membilang
hitungan sisa nafas yang mampu ditiupkan pada udara
Apakah sekiranya aku tak bisa mengatakan sesuatu
yang tak terburai dalam angin malam
yang hanya akan kembali pada kobar api
yang membakar dadaku sendiri?
Apakah kau terlalu jenuh untuk merindu
hingga tidur menghentikanmu dari irama sendu?
Yogyakarta, 29 Agustus 2016
-R. Pujasmara