Surat dari Entah Siapa untuk Entah Siapa

Aku mau bicara tentang kabut di lembah danau
 
Air di sini sebiru pagi
dan dinginnya bekukan angin
Tiada ikan kecil timbul di muka
hanya bayang-bayang dan bayangan
 
Hujan kemarin bilang padaku
ini nanti, ia mungkin datang lagi
Kau sudah pernah rasakan hujan
atau selama ini kau hanya merasa kebasahan?
Di detik airnya turun
ada suara bernyanyi,
‘tak tik tuk’ tetes berdetakan
begitulah bunyinya
 
Boleh kutidurkan kau di sini?
Tanah di sini sejuk
duri-duri rumput jadi halus
licin-licin lumut jadi lembut
Ayo kita berebah
sambil tersenyum berkaca pada embun
Adakah wajahmu
lebihi indahnya di cermin embun?
 
Danauku
Aku kabut di lembahmu
pergi dari dingin wajahmu yang sebiru pagi
Hingga hujan ini nanti, mungkin membawaku kembali 

Karanganyar, 21 Mei 2013
-R. Pujasmara

Dalam Sebuah

Dingin di sini
Di luar hujan
Aku menunggu kepastian
yang tak kunjung hatiku berikan
Hilir mudik aku pergi mengitari ruang cahaya
aku gelisah tak bisa keluar
tetapi tak kuat harus selalu di dalam
Dari sini kupandangi hujan
ke mana mereka hilang, aku ikuti dengan hati
yang di langit, jatuh
beriring sebuah kata
menitik redam hawa membara
menunggu bintang pagi kembali
jika mereda sebelum senja

Karanganyar, 19 Mei 2013
-R. Pujasmara

Taman Bunga di Sudut Kota

Raung jalanan riuh samudera
Kumandang sore menyambut matahari berpisah
bersama bayang-bayang pergi mengikuti
searah burung hitam di cakrawala

Dalam naung akasia yang duduk ke segala penjuru
tak terpecah angin melangkah pulang,
Sebuah pagar taman di sudutnya kota 
menyusun relief bunga-bunga yang hijau berpermadani 
dihias kupu dan daun beterbangan

Ada khayalanku yang mandi di kolam tengahnya
bersuci diri di dalamnya air tanpa malu atau ragu
bersama suka tawa belaka simfoni angin
yang membawa nafas baru menemukan kesejukan
setelah semalam bercinta dengan neraka kata-kata.

Karanganyar, 15 Mei 2013
-R. Pujasmara

Hanya Ini

Harga sebuah cemburu
cukuplah diungkapkan sebagai rahasia
 
Satu yang menyakitkan
yaitu ketika senyum adalah luka yang harus diukir

Karanganyar, 13 Mei 2013
-R. Pujasmara

Suicide

Ah aku mau belajar melupakanmu
Mungkin nanti debu-debu dalam angin kuajari caranya tuk melupakan terbang
Sebab di luar raga ada nyawa yang berteriak keruh
sampai jenuh mega mendung di ujung jalan surya
 
Bagaimana caranya menghapus prasasti yang terukir dalam kalbu
Haruskah kutemui pemahat baru
menghadapi ancaman bagi hati ‘tuk semakin ciut
atau kuhancurkan hatiku yang terlalu besar untukmu
Aku masih bisa membaginya dengan malam kelam
 
Seperti membaca cerita lama
Aku dirayu gita yang penuturnya maya
Dinding di pungguk memeluk beku dingin suara
 
Kau seperti tatap wajah rembulan kepada hitam senja
Aku terkapar di pembaringan bicara sendiri,
bicara kerinduan
untuk terbang kepada serat-serat tali angkasa
mencari rangkaian bunga kartika di telaga langit
berbuah matahari hujan dan pelangi
turun di pucuk lembah merah
 
Seiring sesal terpahat di ujung jiwa
dengan hati sebening bunga melati
Seputih air mata yang lupa memandang
ku telah bikin tinta lepas dari suratnya
dan segera kertas itu lebur dalam air ini
seperti mati ketika kupaksa tegak racun biru
Aku disambut api
 
Tak semuanya indah seperti bunga kemuning di lereng gunung timur

Karanganyar, 7 Mei 2013
-R. Pujasmara

Sisi Lembah

Di ujung-ujung jembatan kita menunggu
lihat kabut tipis turun
ke hadapan yang terpaku diam tertegun
 
Ketika itu suara terdengar lirih menyayat
namun tak jelas dengarkan teriakan sama lain
katakan semua inginkan sebelum berakhir pada penasaran
sebab tinggal nama-nama jelas terdengar
aku, kamu, hanya itu
 
Haruskah mendekat sementara jembatan ini berusia
Ada yang hilang dan ketakutan datang
Adakah jalan memutar bumi di mana kita bertemu di lain sisi
atau kita bisa lari ke tengah dihempas remuk angin lembah
 
Akankah kita sama-sama jatuh nuju jurang-jurangnya
di sungai putih mengalir memecah batuan gunung
Jangan satu dari kita mencoba khawatirkan berpaling saja
Atau satu dari kita derita karena hanya satu rasakan duka
 
Tak tahu kita di mana
ujung jembatan
atau di ujung dunia

Karanganyar, 6 Mei 2013
-R. Pujasmara

Sajak Penutup Masa Sekolah

Semua mesti melepas masa
dan langkah nuju bentang jalan
Sebelum pembilang angka penutur bahasa 
hilang dari pandang perlahan

Hari ini, kita berkunjung 
menemui suka duka cita dahulu
di dingin siang atau panas hujan 
sebelum pudar dihempas 
sadar membunuh lamunan

Aku mau mengerang! 
sekali di sekeras-kerasnya 
pada kibar angin berkunjung
ku terbangkan s’bagai harap
tunduk cipta, punjung doa

Sebab esok, bila datang terngiang
tiada wajah itu boleh kupandang
dalam rangkaian nyata dikenang 

Walau kadang tak disadari
bahwa kebersamaan adalah kesendirian
dan berakhir pada kesendirian.
Sering kali, yang kita tak mau mengerti:
memiliki adalah bersiap kehilangan.

Padang hijau biarkan hijau 
dan airnya mengalir jernih
walau tak lagi kupandang bintang pagi 
menuju takhta di senyum yang sama 

Sementara ketika, 
lembaran buku tertutup kaku
bersama yang putih-kelabu 
dalam almari terlipat membeku

Karanganyar, 4 Mei 2013
-R.Pujasmara

Berhala Hitam

Merangkak riuh, menegak sakti
Di malam gelap dia tenungkan jiwa
demi tiap lengan mengepal dan bibir hitam menyalak:
Dia! Dia! Dia!

Dia bicara: Aku datang
Dengar tawanya antara jerit api 
cari gembalaannya setan dunia

Kini ia tak lagi tidur di sanggar pamujan
Makan pun tak lagi sesajian
hanya arta terhambur
dan tangisan para belia

Di tengah lapang ia berdiri 
segala penjuru penyembah tiba,
dia bicara: Ayo kita menari di atas api!

Lihatlah mereka jilat merah besi
Keringat darah tersiram
Menculik hati dan merenggut jiwa
Sisakan badan-badan tergerak seperti lalang diterpa
dan keringnya memercik bara

Sudah biarlah atau jangan biarkan mereka bermimpi?
lumpuhkan masa, ledakkan surya, 
dan bicara neraka seolah surga

Jangan sampai terbawa mati 
di tengah-tengah buta hati
Katakan:
Jauh! Jauh!
Kamu manusia
Tapi kamu berhala!

Karanganyar, 3 Mei 2013
-R. Pujasmara

Tanpa Korelasi?

Hujan turun di bulan Mei
Lazimkah itu sayang?
Bahkan kupu-kupu pun merindukan musim pancaroba
segera berlalu

Penghujan kemarin
angin terlambat di Desember
Ia sekali kemarin tak memukul cemara di waktu biasa
Terlalu singkat

Debu selatan mulai menjajaki bumi
dan nafasku tersentak 
oleh serbuk bebatuan yang berlalu-lalu
seperti ada semacam kerinduan antara mereka
Tak perlu menunggu lama 
kepalaku nanti juga pusing sendiri

Dengan seluruh bahasa langit
Awan-awan kabut merah di antara hampa
Dan gemintang gemerlap di jauh akan cahaya
Terbang merayapi kosong tiba setelah tahun sejuta

Setelah segala hari berlalu
Kita mau kemana lagi
Sesudah semua waktu berganti
Kita mau sayang siapa lagi?

Karanganyar, 2 Mei 2013
-R. Pujasmara