Yang Hilang Ketika Hujan

Terang seperti kabut dari pagimu
membawa percik menerpa dinding segala tenda
menghalangi kepulan uap terhirup di atas bara.
Kelam seperti gelapmu bangunkan bintang
tidurkan panas matari di peluk kantukmu.
Nyala seperti amarah yang terus jatuh
habis ditelan sisa jejak telapak.
 
Kala terbenam sang biru
debu-debu yang dingin tertiup
Petir merobohkanku di atas namamu
yang tak pernah kembali
bertemu denganku lagi
karena tak boleh memiliki
rindu kenangan yang pergi
 
Segala beban
angan masa depan
 
Air mata yang kusimpan dalam
ternyata hanya menjadi himpunan
yang tak urung hancur beterbangan

Yogyakarta, 11 Maret 2015
-R. Pujasmara

Kau

Kau adalah keikhlasan kata-kata
yang terkadang rela tiada 
bila bicara tak mampu menemukannya
 
Kau adalah rupa yang tak berjumpa
yang tak pernah disebut dalam bahasa
 
Kau adalah tiap kata bermakna cinta yang kita sepakati 
saat hati lebih memilih kata yang belum tercipta
yang ketiadaannya mampu menafsir 
mengapa kita tidak mengerti kita saling mengerti

Yogyakarta, 12 Februari 2015
-R. Pujasmara

Bilang Tadi Saya Kemari

Sore itu dalam nuansa jingga
aku telah memenuhi tekad bulat tuk datang
mengunjungi rindu yang mengundang
dikirim dari sebuah toko buku
punya sahabat lama
satu dari yang tercinta.
 
Aku masuk mengharap obat luka hati
tanpa suara berderit pintu
setelah menahun tahan menunggu.
Namun rindu diletakkan pada sendu
sekadar sungging senyum penjaga menyapa
di hari kerinduan ini ia tidak berada.
 
Demikian meski tetap aku membeli
tunaikan janji manis saat belia
sekotak pensil warna sederhana
tuk lukis puisi yang kini harus kata demi kata
satu tiap kali inspirasi
karena secepat itu hilang lagi.
 
Aku kembali tuk kehilangan
cinta yang diinginkan cinta
tapi ada satu yang tersisa
pada etalase yang mengangguk setuju
tentang yang kuucap lirih
untuk pertemukanku dengannya lain kali


Yogyakarta, 30 Januari 2015
-R. Pujasmara

Badai

Dalam badai ada lilin
yang mengantarkan hal terhina
dari bintang yang diliputi mendung
 
Dalam hina
ada hangat yang paling dingin
yang diburu tangan-tangan dingin
agar sekejap tangan-tangan itu
menjadi dingin yang paling hangat
 
Dalam hina
bintang itu membawa bayang-bayang
hitam yang terlihat dalam gulita
itu kau yang tak pernah pulang
tiba-tiba saja tiba
 
Namun kau datang dalam kehinaan
cahaya bintang yang diliputi mendung
sedang ia masih dalam kemuliaan
gelap yang diliputi nyala hidup
 
ia berharap dalam badai itu
meski nyatamu pergi bayangmu hadir
 
aku tertawa sebab tahu,
mana yang terlebih dahulu berlalu
lilin padam atau badai redam
ia tentu akan tetap menangis, kehilanganmu lagi

Yogyakarta, 28 Januari 2015
-R. Pujasmara

Yang Pergi Ketika Itu

tatap ruang itu beranjak kosong
intipkan berkas-berkas siratan mendung
untuk bayangkan turun apa yang nanti
dari jendela yang tak mengenal cahaya
 
jendela itu meringkuk saat rasa diusap padanya
dengan ujung jari, pelan dari tinggi lengan
perlahan seperti ada waktu yang dinikmati
 
usapan dialihkan lalu
dinding yang gelap dingin
dari tepi ke tepi mencari
cahaya lampu yang mungkin sembunyi
 
merebah lelah, melesu sendu, menduduk bungkuk
dalam tunduk mencari, di mana kamu
 
dalam redam hujan lalu terisak
kamu tak pulang lagi, karena diruntuh gemuruh
ia tidak tahu, kamu tak akan pulang lagi
ia tidak tahu mengapa

Yogyakarta, 22 Januaari 2015
-R. Pujasmara

Ruang

Semua akan terasa berbeda setelah malam ini
Ketika pintu terbuka 
dan aku harus masuki ruang itu kembali
Di antara instrumen kosong yang tergeletak rapi
 
Aku akan mengingat semua kejadian manis itu
Mungkin aku aka menangis, dengan berair mata
Karena rasa sayang pada penghuni-penghuni ruang itu
 
Mungkin lebih dari sekadar ungkapan,
mungkin lebih dari sekadar perasaan
yang bisa membuatku terjaga semalam
 
Mungkin lebih dari sekadar cinta
yang terjadi antara aku…
...dan ruang kesenian
yang terang mempesona,
atau yang muram saat dipeluk malam


Yogyakarta, 6 Januari 2015
-R. Pujasmara