Cermin Perak

Bila kutuliskan ke dalam bayang
Tiada ada kulihat senyum
Namun tengok ke dalam
Di sini dunia nyata
 
Aku tiada dapat menghitung kelajuan perpisahan
karena sua, bicara, ruang, dan kebiasaan
Namun semua yang terlupa
kecuali kesedihan
jadi ketidakadanya penerimaan
 
Bila ada sandang yang terasuk
dan rambut yang tersisir
tawa yang tersenyum
itu adalah sekadar dikenang
 
Mungkin bukan sahabat
namun sejak kanak hingga remaja anjak
aku mengenalmu sudah seharusnya
 
Tak ingin adanya keikhlasan
Karena bahagia atau lelah di sini
 
Karena aku yakin suatu ketika
kau dan aku
akan merasakan kebahagian yang sama
atau bahkan lebih dari apa yang dapat terbayang

Karanganyar, 19 November 2013
-R. Pujasmara

Cintaku Seperti Erupsi Hari Ini

Cintaku seperti erupsi hari ini.
Ia rahasiakan dirinya
di balik bayang kelabu
dan awan-awan mendung pagi.
 
Cintaku seperti erupsi hari ini.
Membumbung tinggi,
menghujan deras,
mendebu sesak.
Namun ia tetap mencintai timur
yang tiap pagi ingin ia saksikan.

Yogyakarta, 18 November 2013
-R. Pujasmara

Penyair Malam

Uap hujan mendesah dalam
air hamparan rumput jiwa
matahari terlalu jatuh ke pangkuan cakrawala
 
Malam ini aku meminangnya
dalam alun gerimis nafas
menandai senyumnya dalam kelemahan rasa
dinyanyikan burung hitam-hitam
 
Setelah tiada seorang yang bisa dirindu
malam ini aku bercinta
di awan-awan ranjang sutera
mengguyurkan hujan pada selimut kabut
basahi rumahku dengan irama nafsu
 
Apakah alam pernah lupa membaca waktu?

Karanganyar, 3 November 2013
-R. Pujasmara