Jikalau Jawaban

Jikalau hari itu merpati masih terbang
dan partikel yang bicara bukan gelombang,
tentu aku takkan memberi umpan dan secangkir air
di dalam kandang yang tak lagi bisa ditinggali

Jikalau hari itu kau menjawab
mengapa kertas putih yang kau potong 
tepinya menghitam,
tentu semua suratku takkan sembunyi
di alamat yang tak lagi dapat dikirimi

Jikalau suatu hari kau menjawab
iya pada seseorang yang bertanya,
sedangkan aku terpuruk dalam menanti
kata tidak yang bukan untukku

Yogyakarta, 27 Oktober 2014
-R.Pujasmara

Antara Api dan Cahaya

1
Di depan rumah aku membara kayu
mengipaskan beku hingga terbakar biru
 
Ada yang bilang malaikat tercipta dari cahaya
sedangkan dari api memancar cahaya
Ada yang bilang iblis tercipta dari api
sedangkan api mendalam nafas
maka nafasku dipenuhi keiblisan
namun sayang, api nafasku ini tak bercahaya
 
Sementara dirimu yang bercahaya
kuanggap malaikat
 
Ternyata aku memuja iblis
di balik pantulan cahaya lensa kamera
 
 
2
Bila aku lubang hitam yang menelan cahaya
kutelan segala nyala alam semesta
dan musnah kehidupan bumi
tanpa cahaya matahari
takkan ada nafas lagi
takkan ada api lagi
takkan ada iblis lagi
 
Hanya cahaya tak kasat mata
terbang menari tanpa saksi
 
 
 
3
Aku bukan dukun peramal
mencoba mengusik Kuasa
Aku bukan pembangkang
mencoba melawan Perkasa
Aku hanya merasa tak cukup berterima
kepada Kasih dan Sayang
 
Aku hanya pemurung
yang lupa betapa beratnya tahu
setetes air yang tersisa menguap di ujung jemari
Aku hanya pemurung
yang sedang butuh hidrasi
menyalakan api sebelum hidup semalam lagi


Yogyakarta, 12 Oktober 2014
-R. Pujasmara
 

Ratus Seratus Dupa

Bak guyuran gaung luhur gong agung
bertumbuk tabuh dan wilah
tarung tanding menalu kebyar
kemebyar lentera menyinar arca marmer berkilau
diserbak melati tebar terserasah
 
Sembah hatur terangkat berirama
pada langit mendung bertatahkan warna
Jiwa berhening mengisi hampa
menuju pada kahiyangan loka
 
Tirta terpercik bening mengusap kulit
Japa diucap tembang diuluk
 
Ketukan mendesak mendadak tersirap
Ibarat gunung yang rubuh lalu terbakar
kembali dapat pulang ke sisi gelap jilat gerhana
 
Tali merah yang sedari tadi mengikat sesaji
itu kemudian bergerak menari
liar seular menjalari batu-batu
melepaskan diri dari raga
menggelepar melompat ke angkasa
hingga jatuh di atas tungku berdoa
 
Mematahkan nyala seratus dupa
Menyebarkan ratus sewangi bunga

Karanganyar, 4 Oktober 2014
-R. Pujasmara

Caving

Aku sudah lelah mendaki 
sebab hutanmu sudah hilang teduh
awanmu rugi mendung
dan anginmu bangkrut sejuk
 
Aku sudah capek menyusur pantai
karena lautmu sudah pensiun ombak
sehingga ikanmu lelah berenang
 
Aku sudah bosan berkemah
toh rembulanmu malas benderang
menyebabkan api unggunmu beku
lalu lagumu sumbang
 
Tapi aku belum pernah melihat guamu
yang vertikal terjal
yang berkelelawar hitam
 
Pagi ini aku berkemas
siapkan karabiner dan tali-temali
lampu fosfor, coverall, dan helm
karena dalam impianku
di sana ada sungai dan hutan matahari
kekupuan mengepak bebas di taman bunga
 
Maka dari itu aku takkan menggapai puncak hatimu
tak ingin mengarungi samudera cintamu
tak juga memasak bekal sayangmu
 
Tapi ku takkan sabar
segera menuruni dalamnya perasaanmu
caving di relung hatimu

Yogyakarta, 1 Oktober 2014
-R. Pujasmara