Burung dan Sekuntum Padi

Aku tak ingin menjadi burung, aku ingin menjadi angin,
agar boleh mengelus tangkaimu yang merunduk itu
daripada harus ku ditakdir membunuh biji-bijimu.
 
Namun bila pada akhirnya aku tetap burung,
meski ku harus mati berjuang menghancurkanmu,
dalam jurang hati kuizinkan seorang petani berteriak,
membunyikan kaleng rombeng itu menjagamu, menakutiku,
menjauhkanmu dari paruh kecilku
yang ingin selalu dekat padamu.

Yogyakarta, 14 September 2014
-R. Pujasmara

Upil

Aku percaya pada 5,273 cm di depan upilku
yang basah berlendir atau yang kering kerontang
 
Karena ku yakin bahwa 5,273 cm di depan upilku
ada debu yang siap menerjang paru-paru
dan cinta yang akan mematahkan kalbu
 
Tapi aku percaya pada upilku
Sebab bila ia tiada
ku tak tahu fungsi bulu hidungku
yang bergetar menentang marabahaya
 
Aku takut nafasku resah
Aku takut paru-paruku basah
 
Namun tiada keraguan lagi
ketika upil berada di ujung jemari
 
Dan hatiku kembali riang
ketika upil berlendir yang kini jadi bulatan
terbang, menuju kebeba…
…lho, kok nempel di rambut orang!

Yogyakarta, 11 September 2014
-R. Pujasmara

Jalan Raya Berlubang

Gigimu banyak mengunyah bunga roda
membunuh tikus got penyeberang
mendebukan keras bebatuan
mendidihkan kubang
 
Aku yang tak berkuasa hanya menutup muka
sebab lihai tanganmu dari jauh sekali terasa kaku
bagai bulan permata dan matahari berlian teteskan salju
 
Ingatkah kala palumu menyederhanakanku
menjadi butir yang lebih berpasir
dan ketika apimu menaikkan petirku
menjadi minyak yang lebih melekat
 
Sungguh pun aku telah bahagia bila tetap menjadi aspal beku
namun lebih indah bila dirimu kembali membakarku
menutup derita dengan cerita baru


Yogyakarta, 11 September 2014
-R. Pujasmara