Kelam

Menggapai meraba bayang
di suatu tempat di ujung ilalang
oleh api aku berlumur
dingin tetapi pada jemari
 
Ada pohon cantigi terhalau
untuk serpih angin dikibaskan
meski semua bayang diam belaka
malah kini tak bisa ku kena
 
Bayangmu mengapa sunyi?
Tida seperti kamu kemarin
kamu sekarang jauh di mukaan samudera
di sisi lembah kita terpisah
 
Haruskah ku marah pada pagi karena datang?
 
Aku rindukan malam panjang
sebab, kita semua tinggal bayang
aku, kita, satu, jiwa
 
Mengejarmu suatu kali
Aku menunggu!
Hingga dengus marah, duka murka!
Sampai hilang dan meratap
 
Sadar bahwa
hanya malam satukan kita
di mimpi, di hitam bayang-bayang

Karanganyar, 27 April 2013
-R. Pujasmara

Seperti Aku

Adakah batu yang bertanya 
mengapa ia membeku dari pijar?
Adakah awan yang bertanya
mengapa ia hancur dari hitam?
Lalu mengapa aku harus bertanya
mengapa aku beku dan hancur olehmu?

Tidak satupun daun gugur
menginginkan jiwanya kembali
……………
Tidak seperti aku. Tak selesaikan puisi
Namun ingin mengarang lagi


Karanganyar, 12 April 2013
-R. Pujasmara

Alir

Air perlahan mengalir dari mata
pada tiap lekuk jalan-jalan
Menetes terjun
Berkelok panjang
Mengarus
 
Akan kemana
bilamana yang dapat ditempuh hanya semata
Salahkah angan sampaikan berjuta suci
kepada lautan biru
 
Sayangnya mudah terlarutkan
semua yang turut mengikut
hitam putih bumi pula berharap, suatu nanti
kan berkumpul pada samudera
Jangan. Jangan biarkan
gelapnya bermuara serta.
Biarkan sungaiku, suciku
 
Menguaplah hancur
terbanglah saja
siapa rela muaraku kau lumpuri
Bila kau tanah jadilah tanah
Jangan jamahi tetes airku
 
Haruskah air mata airku
selamanya tak bisa memutuskan
Hanya terdesak ikuti keadaan


Karanganyar, 5 April 2013
-R. Pujasmara