Pada Sebuah Musim Semi

Keluhmu bergugur dan peluhku bercucur

Di sungai yang tersusur ketika
Di tapak yang tersisir kala
Di angin yang menerpa gulana
Di dingin yang menderma nestapa
Di simping dinding yang merebut nyala
Di simpang ruang yang merenggut bayang

Di malam dalam semayam
Tidurku masih terjaga padamu
Dan sadarku masih bermimpi tentangmu

Yogyakarta, 26 Maret 2024
-R.Pujasmara

Suatu Kali

Kau berkata padaku suatu kali
“Mengapa lama sekali tak Kau kirimi aku puisi?”
Ku hanya terpaku membayangkan wajahmu
sambil memandang hampa
mencoba merasuk-rasuki diri sendiri
 
Andai kau mengerti 
betapa sulit bagiku kini menerjemahkan rindu
sebab ku tak lagi tahu apakah ia harus berarti cinta.
 
Andai kau tahu
kenyataan ini kekang pada rasa
yang menuntun kata menuju penjara 
Aku ingin sekali waktu membebaskan diri
menuliskan sejuta kata-kata berbunga
lalu barangkali mengirimimu satu atau dua
supaya sekali-kali kau tahu kabarnya rinduku

Yogyakarta, 16 Januari 2018
-R. Pujasmara

Bahasa Sunyi

Diam mengatakannya padaku
meraung dalam bahasa sunyi
tentangmu
 
Rengut bibirnya diremas sesal
tak seribu senyum wajahnya menggambar
 
Diam, tempat segala rindu bersemayam
mencintaimu
melebihi semua cinta
yang bisa disampaikan syair puisi dan mahkota bunga
 
Tatap matanya setia
saat kutetapkan pada hati tuk berhenti mencintai
 
Kubuka mata
mendengar semua murka
yang disampaikan diam
bersama kenangan dan angan-angan

Klaten, 13 Maret 2017
-R. Pujasmara

Sepulau Rindu untuk Meirina

Dalam kasih, sedetik rindu, waktu yang terasa begitu beku
menyampaikan doa-doa yang terbata.

Ingin kuceritakan padamu
betapa malam ini begitu mempesona saat ia hanyut oleh pagi.

Fajar yang lahir di padang tempat kita menumpahkan cinta
membangunkan Pohon Rasamala Tua yang tehenyak bisu.

Ia menatap kosong pada kerasnya Lawu bertanya-tanya berangan:
Kapankah kita akan kembali duduk berteduh dari sengat matari dan timpaan hujan.

Aku tak kuasa menatapnya saat ia tahu bahwa setelah sekian lama,
pada hari ini aku datang sendiri tanpa derap langkahmu menemani.

Pohon Rasamala Tua berkata rindu.
Dititipkannya bunga dan embun pagi 
tuk kau cium harumnya dari dunia yang tak tersentuh mata

“Bukankah kau paham ilmu kayu?”, kata Pohon Rasamala Tua tersedu.
Pada waktu itu aku memandang tak mengerti
sampai akhirnya detik ini aku menyadari
bahwa ia simpan nafasmu dalam relungnya.

Dalam sepi aku berpamitan pada Pohon Rasamala Tua
dengan janji yang belum kuketahui cara untuk menepatinya:
“Percayalah, aku akan kembali membawa kenangan yang kau kira sirna.”

Dari Pohon Rasamala Tua di Gondosuli aku mengitari bumi.
Mengunjungi Sindoro, Semeru, Merbabu, Merapi, dan semua
yang memperlihatkan kita indahnya cakrawala seusai badai,
yang mengajarkan kita tentang keikhlasan menerima apapun hasilnya,
yang menggerakkan kita untuk selalu mengejar mimpi,
dan mengingatkan kita untuk selalu kembali menapaki semua liku jalan yang pernah kita susuri.

Maka sepulau rindu kusampaikan padamu, 
dari mereka yang meyakini
bahwa cukup dengan kau pernah ada,
kau akan selalu ada.

Yogyakarta, 28 Februari 2017
-R. Pujasmara

Kami dan Penguasa

Dunia ini kepalsuan yang diciptakan kaum penguasa
 
Kami di sini teriak lapar dan sakit
berharap pada pemberi sesuap nasi
dan dokter yang suntikkan anestesi
 
Mereka bicara ekonomi dan sosial untuk jelata
di balik buta mata kami tentang nyata
Mereka bicara soal etika dan nurani
di balik tuli kuping kami tentang konspirasi
 
Semau mereka
karena memang lupa
kuasa tak akan memberi mereka nyawa ganda
Murka kami
karena mereka seenak sendiri
akan membikin kulit daging mereka diapi

Yogyakarta, 2 Januari 2017
-R. Pujasmara

Perkiraan

Saat engkau terlalu jauh dalam berdiri
sehingga sinar rembulan yang tersorot dari angkasa
tak dapat kukembalikan padamu,
aku tak bisa menerka
apa yang menahan sudut matamu
sehingga ia tidak mau meneteskan tangis?
 
Sedang aku di sini meminta rindu yang kuajarkan padamu
sebelum tanganku mampu membilang
hitungan sisa nafas yang mampu ditiupkan pada udara
 
Apakah sekiranya aku tak bisa mengatakan sesuatu
yang tak terburai dalam angin malam
yang hanya akan kembali pada kobar api
yang membakar dadaku sendiri?
 
Apakah kau terlalu jenuh untuk merindu
hingga tidur menghentikanmu dari irama sendu?

Yogyakarta, 29 Agustus 2016
-R. Pujasmara

Yang Hilang Ketika Hujan

Terang seperti kabut dari pagimu
membawa percik menerpa dinding segala tenda
menghalangi kepulan uap terhirup di atas bara.
Kelam seperti gelapmu bangunkan bintang
tidurkan panas matari di peluk kantukmu.
Nyala seperti amarah yang terus jatuh
habis ditelan sisa jejak telapak.
 
Kala terbenam sang biru
debu-debu yang dingin tertiup
Petir merobohkanku di atas namamu
yang tak pernah kembali
bertemu denganku lagi
karena tak boleh memiliki
rindu kenangan yang pergi
 
Segala beban
angan masa depan
 
Air mata yang kusimpan dalam
ternyata hanya menjadi himpunan
yang tak urung hancur beterbangan

Yogyakarta, 11 Maret 2015
-R. Pujasmara

Kau

Kau adalah keikhlasan kata-kata
yang terkadang rela tiada 
bila bicara tak mampu menemukannya
 
Kau adalah rupa yang tak berjumpa
yang tak pernah disebut dalam bahasa
 
Kau adalah tiap kata bermakna cinta yang kita sepakati 
saat hati lebih memilih kata yang belum tercipta
yang ketiadaannya mampu menafsir 
mengapa kita tidak mengerti kita saling mengerti

Yogyakarta, 12 Februari 2015
-R. Pujasmara

Bilang Tadi Saya Kemari

Sore itu dalam nuansa jingga
aku telah memenuhi tekad bulat tuk datang
mengunjungi rindu yang mengundang
dikirim dari sebuah toko buku
punya sahabat lama
satu dari yang tercinta.
 
Aku masuk mengharap obat luka hati
tanpa suara berderit pintu
setelah menahun tahan menunggu.
Namun rindu diletakkan pada sendu
sekadar sungging senyum penjaga menyapa
di hari kerinduan ini ia tidak berada.
 
Demikian meski tetap aku membeli
tunaikan janji manis saat belia
sekotak pensil warna sederhana
tuk lukis puisi yang kini harus kata demi kata
satu tiap kali inspirasi
karena secepat itu hilang lagi.
 
Aku kembali tuk kehilangan
cinta yang diinginkan cinta
tapi ada satu yang tersisa
pada etalase yang mengangguk setuju
tentang yang kuucap lirih
untuk pertemukanku dengannya lain kali


Yogyakarta, 30 Januari 2015
-R. Pujasmara

Badai

Dalam badai ada lilin
yang mengantarkan hal terhina
dari bintang yang diliputi mendung
 
Dalam hina
ada hangat yang paling dingin
yang diburu tangan-tangan dingin
agar sekejap tangan-tangan itu
menjadi dingin yang paling hangat
 
Dalam hina
bintang itu membawa bayang-bayang
hitam yang terlihat dalam gulita
itu kau yang tak pernah pulang
tiba-tiba saja tiba
 
Namun kau datang dalam kehinaan
cahaya bintang yang diliputi mendung
sedang ia masih dalam kemuliaan
gelap yang diliputi nyala hidup
 
ia berharap dalam badai itu
meski nyatamu pergi bayangmu hadir
 
aku tertawa sebab tahu,
mana yang terlebih dahulu berlalu
lilin padam atau badai redam
ia tentu akan tetap menangis, kehilanganmu lagi

Yogyakarta, 28 Januari 2015
-R. Pujasmara