Saksi

Kalau ada langit maka diusung
kalau bumi lalu dipijak
di antara keduanya angin berjalan perlahan

Pada lingkaran yang lebih kecil
ada bumi-bumi dan langit-langit
di antara keduanya nafas mendesah pelan

Kenyataan seperti ini
detak jantung lebih menggetar dari gemulung ombak
sebab suara itu berteriak ke sekian kali
menuntut sabar yang berdiri
menidurkan yang roboh rebah

Balutan luka merangkul
tangan yang naungi jemari remuk lengah lelah 
karena pundak dipaksa menopang
kenyataan seperti ini

Ada pohon besi yang meneteskan air laut
berbuah bening dilapis embun
di bawah bunga merah empat mahkota

Suara yang berteriak itu bilang,
maka aku menyaksikan dua bagian yang satu
karena seperti-pertinya
ia tak mengharap hidupku tuk kedua kali

Siapa yang tahu siapa punya suara itu. Aku pun tidak
Kalau ada, aku harap ada kamu di sini 
di sebuah ruang di kehidupan
Sebelum selimut kering menutupi wajah dosaku

Yogyakarta, 30 Desember 2014
-R. Pujasmara

Jikalau Jawaban

Jikalau hari itu merpati masih terbang
dan partikel yang bicara bukan gelombang,
tentu aku takkan memberi umpan dan secangkir air
di dalam kandang yang tak lagi bisa ditinggali

Jikalau hari itu kau menjawab
mengapa kertas putih yang kau potong 
tepinya menghitam,
tentu semua suratku takkan sembunyi
di alamat yang tak lagi dapat dikirimi

Jikalau suatu hari kau menjawab
iya pada seseorang yang bertanya,
sedangkan aku terpuruk dalam menanti
kata tidak yang bukan untukku

Yogyakarta, 27 Oktober 2014
-R.Pujasmara

Antara Api dan Cahaya

1
Di depan rumah aku membara kayu
mengipaskan beku hingga terbakar biru
 
Ada yang bilang malaikat tercipta dari cahaya
sedangkan dari api memancar cahaya
Ada yang bilang iblis tercipta dari api
sedangkan api mendalam nafas
maka nafasku dipenuhi keiblisan
namun sayang, api nafasku ini tak bercahaya
 
Sementara dirimu yang bercahaya
kuanggap malaikat
 
Ternyata aku memuja iblis
di balik pantulan cahaya lensa kamera
 
 
2
Bila aku lubang hitam yang menelan cahaya
kutelan segala nyala alam semesta
dan musnah kehidupan bumi
tanpa cahaya matahari
takkan ada nafas lagi
takkan ada api lagi
takkan ada iblis lagi
 
Hanya cahaya tak kasat mata
terbang menari tanpa saksi
 
 
 
3
Aku bukan dukun peramal
mencoba mengusik Kuasa
Aku bukan pembangkang
mencoba melawan Perkasa
Aku hanya merasa tak cukup berterima
kepada Kasih dan Sayang
 
Aku hanya pemurung
yang lupa betapa beratnya tahu
setetes air yang tersisa menguap di ujung jemari
Aku hanya pemurung
yang sedang butuh hidrasi
menyalakan api sebelum hidup semalam lagi


Yogyakarta, 12 Oktober 2014
-R. Pujasmara
 

Ratus Seratus Dupa

Bak guyuran gaung luhur gong agung
bertumbuk tabuh dan wilah
tarung tanding menalu kebyar
kemebyar lentera menyinar arca marmer berkilau
diserbak melati tebar terserasah
 
Sembah hatur terangkat berirama
pada langit mendung bertatahkan warna
Jiwa berhening mengisi hampa
menuju pada kahiyangan loka
 
Tirta terpercik bening mengusap kulit
Japa diucap tembang diuluk
 
Ketukan mendesak mendadak tersirap
Ibarat gunung yang rubuh lalu terbakar
kembali dapat pulang ke sisi gelap jilat gerhana
 
Tali merah yang sedari tadi mengikat sesaji
itu kemudian bergerak menari
liar seular menjalari batu-batu
melepaskan diri dari raga
menggelepar melompat ke angkasa
hingga jatuh di atas tungku berdoa
 
Mematahkan nyala seratus dupa
Menyebarkan ratus sewangi bunga

Karanganyar, 4 Oktober 2014
-R. Pujasmara

Caving

Aku sudah lelah mendaki 
sebab hutanmu sudah hilang teduh
awanmu rugi mendung
dan anginmu bangkrut sejuk
 
Aku sudah capek menyusur pantai
karena lautmu sudah pensiun ombak
sehingga ikanmu lelah berenang
 
Aku sudah bosan berkemah
toh rembulanmu malas benderang
menyebabkan api unggunmu beku
lalu lagumu sumbang
 
Tapi aku belum pernah melihat guamu
yang vertikal terjal
yang berkelelawar hitam
 
Pagi ini aku berkemas
siapkan karabiner dan tali-temali
lampu fosfor, coverall, dan helm
karena dalam impianku
di sana ada sungai dan hutan matahari
kekupuan mengepak bebas di taman bunga
 
Maka dari itu aku takkan menggapai puncak hatimu
tak ingin mengarungi samudera cintamu
tak juga memasak bekal sayangmu
 
Tapi ku takkan sabar
segera menuruni dalamnya perasaanmu
caving di relung hatimu

Yogyakarta, 1 Oktober 2014
-R. Pujasmara

Burung dan Sekuntum Padi

Aku tak ingin menjadi burung, aku ingin menjadi angin,
agar boleh mengelus tangkaimu yang merunduk itu
daripada harus ku ditakdir membunuh biji-bijimu.
 
Namun bila pada akhirnya aku tetap burung,
meski ku harus mati berjuang menghancurkanmu,
dalam jurang hati kuizinkan seorang petani berteriak,
membunyikan kaleng rombeng itu menjagamu, menakutiku,
menjauhkanmu dari paruh kecilku
yang ingin selalu dekat padamu.

Yogyakarta, 14 September 2014
-R. Pujasmara

Upil

Aku percaya pada 5,273 cm di depan upilku
yang basah berlendir atau yang kering kerontang
 
Karena ku yakin bahwa 5,273 cm di depan upilku
ada debu yang siap menerjang paru-paru
dan cinta yang akan mematahkan kalbu
 
Tapi aku percaya pada upilku
Sebab bila ia tiada
ku tak tahu fungsi bulu hidungku
yang bergetar menentang marabahaya
 
Aku takut nafasku resah
Aku takut paru-paruku basah
 
Namun tiada keraguan lagi
ketika upil berada di ujung jemari
 
Dan hatiku kembali riang
ketika upil berlendir yang kini jadi bulatan
terbang, menuju kebeba…
…lho, kok nempel di rambut orang!

Yogyakarta, 11 September 2014
-R. Pujasmara

Jalan Raya Berlubang

Gigimu banyak mengunyah bunga roda
membunuh tikus got penyeberang
mendebukan keras bebatuan
mendidihkan kubang
 
Aku yang tak berkuasa hanya menutup muka
sebab lihai tanganmu dari jauh sekali terasa kaku
bagai bulan permata dan matahari berlian teteskan salju
 
Ingatkah kala palumu menyederhanakanku
menjadi butir yang lebih berpasir
dan ketika apimu menaikkan petirku
menjadi minyak yang lebih melekat
 
Sungguh pun aku telah bahagia bila tetap menjadi aspal beku
namun lebih indah bila dirimu kembali membakarku
menutup derita dengan cerita baru


Yogyakarta, 11 September 2014
-R. Pujasmara

Penghujan yang Paceklik

Sejak mulai menulis waktu
ini telah dua ribu kali
Penanggalan mencatat
aku memang bukan yang suka mengingat
 
Aku melupa meski tak suka
Aku sakit meski tak luka
Aku pernah bilang kalau ingin menulis lagi
tapi aku sangsi dalam kreasi
 
Celaka, oh celaka!
 
Padi kutanam pada hujan
namun hanya tumbuh ilalang
Ikan kulepas pada lubuk
namun hanya bertelur lumpur
 
Kalaupun kutunggu banjir
airnya tak kan puaskan dahaga
Kalaupun kunanti longsor
tanahnya tak kan tumbuhkan nyawa 

Yogyakarta, 21 Juli 2014
-R. Pujasmara

Gelap

Dari ruang gelap kita mencabut hidup di atas nyawa
merasa wibawa untuk melukis duka di atas tawa
 
Dari bangun gelap kita mendengar
sepi amarah yang hingar-bingar
jelas keraguan terhambar
tolak damai berakar
 
Dari sisi gelap kita memandang
tapi terundung oleh bayang
di balik dinding terawang
ditumpuk rasa sayang
 
Dari sudut gelap kita bertarung
mengadu tangan terpancung
di belenggu digantung
pikiran terpasung
 
Dari garis gelap kita sakti
semua tinggal menanti
cahaya sampai mati
 
Dari titik gelap yang kembali gelap
tinggal gelap yang hingga
gelap tak lagi terbaca gelap

Yogyakarta, 12 April 2014
-R. Pujasmara

Mereka Bicara Seribu Kata

Suatu ketika, kata demi kata kan sirna
saat bicara kehilangan makna
Mungkin hari ini
tapi bukan yang tadi kita berjumpa
 
Waktu itu, ku terdiam
karena ada yang lebih sarat
dari keterpaksaan tuk hanya memperindah kata
 
Kadang kita rindukan gurau senda
namun yang ditunggu terkadang sia
Setidaknya kita tahu
senyum tetaplah terkesan saat bertemu
 
Kita belajar
bahwa membaca tak mesti dalam mata
biarkan jiwa bermain rasa
 
Meski hanya sunyi
tak usah esok kau cepat-cepat pergi
Terserah mereka bicara seribu kata
Biarlah diam kita bercerita 

Karanganyar, 9 April 2013
-R. Pujasmara

Cinta Sebuah Ruang Hampa

O, bagaimana membuka rahasia?
 
Cintaku awalnya berupa mendung
mengintai raga memayung
menyusun awan
merajut hujan
melangitkan hati dalam bahagia
 
Cintaku yang dahulu itu cakrawala
menuntun arah langkah
ataukah menunggu waktu
pada mata bangunkanmu
 
Cintaku pernah jadi angkasa
menembus ujung nafas
hingga terbang tatap batas
berkelana dari jejak kaki
ke puncak mimpi
 
Cintaku kini ruang hampa
terbentang peluk semesta
ada secara kata
namun tak pernah bisa nyata

Yogyakarta, 27 Februari 2014
-R. Pujasmara

Di Sela Kerinduan Pada Hujan

Menengadah menengah ke langit teduh
Memacak pandang menari nafas
Berharap 
akan ada pematung awan mengukir birunya putih
melaksanakan hari yang dingin di balik badai matahari
di sebelah murka buana raya

Di titik jauh dari letak berdiri 
terdengar sekumpulan malaikat
berkata pada sebuah hutan yang tua
bahwa tajuknya memutih tak lama lagi 
luruh dan pudar

Bersama hujan yang mereka sangka akan kembali
membawa datang kehidupan

Yogyakarta, 21 Februari 2014
-R. Pujasmara

Seorang Perempuan dan Hujan

Debur angin melempar debu-debu matahari
Arus balik meninggalkan jejak keharuan dalam langkah
di tiang-tiang pembatasnya 
tertempel ludah yang melebar
menjadi kalimat-kalimat yang terpaku
 
Di sana tertuliskan kata-kata yang belum terucap
“Sedang apa engkau menghapus putih dari jalanan?
Tidak bosankah engkau menyemburatkan hitam
sedangkan kenyataan hanyalah kepalsuan yang terbeli
dan kebenaran tak pernah ditemukan artinya
 
Kembalilah kepada keabadian.
Namun engkau kan butuh waktu 
sayangnya aku pun tak miliki
sebab yang berlalu terlewatkan
tak pernah ada saat ini
dan masa depan hanya khayalan
 
Jika perpisahan menjadi arti sebuah pertemuan
berpisahlah dengan raga di senja yang terang
atau di alir petir yang menyayang bumi
dan gemuruh yang mencumbu mendung
 
Semua akan terlupa 
kecuali perasaan bahwa kita melupakannya”

Yogyakarta, 25 Januari 2014
-R. Pujasmara