Ku biasa bicara dengan rembulan tentang harapan dan pelita
meski ku menutur di atas gulita.
Jauh dari siang dan kehidupan
aku senang bicara dengan rembulan
karena malam itulah aku benar rasakan.
Namun kini
mendung berkunjung
gelarkan rintik badai
Akhirnya jatuhlah aku sendiri
bermonolog menatap langit dari cahaya yang sirna
tapi kalimatku pribadinya kelam.
Jika bulan kembali bersinar,
suatu kata kuucap tuk kuambil balasnya
perihal ku mati rindukannya.
Namun bila
cahyanya memang bukan lagi buatku,
kuterimakan padaku sendiri
bahwa ku takkan merindunya lagi.
Dia rembulanku,
pelita kelam malamku.
Dia rembulanku,
cintaku yang kaku beku.
meski ku menutur di atas gulita.
Jauh dari siang dan kehidupan
aku senang bicara dengan rembulan
karena malam itulah aku benar rasakan.
Namun kini
mendung berkunjung
gelarkan rintik badai
Akhirnya jatuhlah aku sendiri
bermonolog menatap langit dari cahaya yang sirna
tapi kalimatku pribadinya kelam.
Jika bulan kembali bersinar,
suatu kata kuucap tuk kuambil balasnya
perihal ku mati rindukannya.
Namun bila
cahyanya memang bukan lagi buatku,
kuterimakan padaku sendiri
bahwa ku takkan merindunya lagi.
Dia rembulanku,
pelita kelam malamku.
Dia rembulanku,
cintaku yang kaku beku.
Karanganyar, 23 Desember 2011
-R. Pujasmara