Rindu Rembulan

Ku biasa bicara dengan rembulan tentang harapan dan pelita
meski ku menutur di atas gulita.
 
Jauh dari siang dan kehidupan
aku senang bicara dengan rembulan
karena malam itulah aku benar rasakan.
 
Namun kini
mendung berkunjung
gelarkan rintik badai
 
Akhirnya jatuhlah aku sendiri
bermonolog menatap langit dari cahaya yang sirna
tapi kalimatku pribadinya kelam.
 
Jika bulan kembali bersinar,
suatu kata kuucap tuk kuambil balasnya
perihal ku mati rindukannya.
 
Namun bila
cahyanya memang bukan lagi buatku,
kuterimakan padaku sendiri
bahwa ku takkan merindunya lagi.
 
Dia rembulanku,
pelita kelam malamku.
Dia rembulanku,
cintaku yang kaku beku.

Karanganyar, 23 Desember 2011
-R. Pujasmara

Doa dan Maaf Kutitipkan

Aku harusnya ada di meru
menyapa bunga-bunga yang kucinta
memeluk pinus dan cemara yang kusayang
mengajak mereka bercanda di hamparan savana
 
namun aku juga tak mampu
bila mesti sendiri
Aku butuh tangan tuk memegang
dan kaki tuk menopang
 
Kepadamu bintang-bintang dan purnama
juga kepada langit yang membawa angin
Doa dan maafku aku titipkan padamu
sebab ku tak kuasa membawanya pada mereka
 
Aku ingin pergi ke meru
namun aku menyadari
aku hanya punggung tuk terbebani
dan di sini, aku sendiri

Karanganyar, 20 Oktober 2011
-R. Pujasmara

Matahari dan Samudera

Aku lagi berduka
waktu senja di tepi benua
pada cakrawala dan mega-mega
yang emas kehitaman ditinggal warnanya

Cahaya tlah dibenamkan
terbit satu kegelapan
tuk air mata mudah terteteskan
apa lalu kemudian

Dimana boleh nampak wajah cerah
tawa bila pagi merah.
Bukankah sudah sulit kehilangan,
apalagi mesti berpisahan

Samudera bukan taman bunga
tempat direstui bahagia
pasti ku kan berakhir sia
sebab matahariku sendiri ditelannya

Karanganyar, 11 Oktober 2011
-R. Pujasmara

Pesan Lama

Aku senang kamu sekarang tahu
perasaanku yang selama ini dibelenggu
walaupun tidak kau terima cintaku
 
Ku kan teguh pada hati
tak akan berpaling bahkan dalam pikiran
karena aku bukanlah orang yang mencari-cari
 
Tiada di dunia yang tak meminta balas
sebab manusia yang ikhlas pun berharap dari Tuhannya
Aku ini manusia biasa
tak berharap banyak
sederhananya, janganlah kau berubah
namun ku tak juga sekedar meminta,
karena ku ‘kan selalu berupaya memberi.

Karanganyar, 9 September 2011
-R. Pujasmara

Senja

Tiada lagi bunyi genderang
pula sangkakala perang
Tertinggal darah yang teroles pada pedangnya
dan perisai baja yang terbelah pada tengahnya
 
Beku mencekam
menegakkan panji yang patah
mengibarkan bendera yang bedah
meratapi matinya manusia
 
Manusia terlampau sesumbar
namun darahnya sendiri tlah memancar
 
Jika manusia berjaya
maka hanya kejayaan sia-sia
kejayaan abadi hanya milik Dewata
di nirwana yang nirmala
 
Dunia memang untuk manusia
namun tak berarti selamanya
 
Dewata lah yang berkuasa
kita lah yang tunduk pada-Nya
sebab Dewata takkan pernah
berbagi kejayaan dan keabadian dengan titah-Nya

Karanganyar, 25 Mei 2011
-R. Pujasmara

Amnesia

aku tahu aku mengenalnya
dari setiap helai rambutnya
dari setiap merdu suaranya
aku tahu aku mengenalnya
dia yang hembusan nafasnya meniupkan angin sejuk
kemudian sentuhan tangannya bagaikan pagi, dingin
 
namun aku bingung
siapa gerangan namanya
sesuatu terjadi pada duniaku
untuk mengingat satu nama pun aku tak kuasa
 
aku bisa jadi gila dan bisa jadi sudah gila
hanya saja, memang aku tahu aku mengenalnya
tapi mungkin aku tak pernah tahu kalau aku amnesia


Karanganyar, 20 Maret 2011
-R. Pujasmara