Awan-Awan Berarak Tinggi

Rupanya hari ini sudah pagi
matahari bahkan sudah tinggi
Jangan kau melihatku dulu
terlihat bodoh kau buatku dengan senyumanmu
 
Dan sejak tadi kau pun tak membangunkanku
Ku tahu kau tak ingin mengganggu
namun kau pun tak harus membiarkanku
terlelap lebih lama
hanya untuk menahanku pergi
 
Aku kan di sini
menemanimu menyambut pagi
Tetaplah duduk untuk sebentar waktu
jangan kau beranjak berdiri
mari kuajak sementara memandang biru
ketika awan-awan berarak tinggi
 
Awan-awan di sana kau tahu
bagai impian jauh melambung di angkasa
Sebentar naik sekali-kali turun
menunjukkan kita, terkadang betapa dekat mereka
Kadang pula putih mereka menghitam
bagai asa yang tak selalu sempurna
 
Mereka pun pernah datang pada kita,
entah kecil selembut gerimis,
maupun sekeras badai
Sama seperti impian-impian kita,
kadang kita rasakan baiknya,
kadang kita tertimpa buruknya
 
Namun dari semua baik-buruk itu
akan menciptakan untuk kita keindahan
bagaikan pelangi dengan warna-warni
Namun yang paling berkesan tentu
saat kita mengejar mereka ke gunung tinggi
Terjalnya rintangan tuk menggapai awan
dingin dan keras batuan
harus satu demi satu kita tapaki
hingga tak tersadari semua telah terlampaui
 
Tentu dahulu kala tak dapat terbayangkan indahnya
dunia jauh di bawah kita
atau kala awan-awan terbang di depan mata
 
Di balik awan-awan ini
saat angin perlahan menyingkap mereka
kita baru mengerti bahwa kita telah di sana
 
Hari ini kita mulai lagi
menggapai cita baru
memulai perjuangan hidup
mengejar awan-awan yang berarak tinggi

Karanganyar, 24 Desember 2013
-R. Pujasmara

Antara Negeri Sultan dan Kota Sunan III

Aku pergi lagi dari kota
dalam putaran roda
melihat hati ke hati
melihat awan-awan terbang tinggi
 
Mulai teringat pada zaman ketika mereka hinggap
dan bukit-bukit selatan menjadi biru
dingin seperti laju udara
yang dikirimkan Merapi pada Laut Selatan
 
Bila nanti ku kembali
rangkaian bunga lengkung daun bercerita
di Kota Sunan aku melihat mimpi
yang di Negeri Sultan kan aku miliki
bersama deras debur
yang dikirimkan Merapi pada Laut Selatan
 
Dan bila kepingan-kepingan hujan
dan reruntuhan pelangi
mulai menampakkan matahari yang sembunyi
Aku akan berkata
“Aku tlah tiba pada akhirnya”

Yogyakarta, 23 Desember 2013
-R. Pujasmara

Malam di Tepian Pantura

Hari kembali sore 
ketika roda-roda kembali berputar
melukis keindahan dalam kelambatan laju

Tiada pernah berbeda ketika selera harus dipaksakan 
hanya terpaku pada lukisan yang usai dikemas
digantikan senandung ombak menjelang petang 
lama sekali, hingga angin pun harus kucari 
di tepian keriuhan dan deru

Ada mata tertutup dan nafas yang tertarik 
dalam hembus sensasi didekati gerimis 
membelai malam bulan separuh
memendar dari pekat kaca 
yang menyatu pada wajah lelah

Malam di kota indah dideru taman lampu jemalan
pecah hati sudahi waktu 
semua yang orang tahu suka bicara
ada cerita di dunia tentang itu dan ini
tak terhenti dan tak mau berhenti

Ada kesadaran bahwa 
ketentraman hati terkadang muncul di malam panjang 
Dan bernyala lampu di Jawadwipa 
lambat meredup pandang
buyarkan pesta kecil malam ini 
di tepian pantai utara 

Lebih baik bahagia dalam kepercayaan
sebab air untuk mengguyur badan masih mengalir di bumi

Yogyakarta, 20 Desember 2013
Mengingat satu malam di Pasuruan-Probolinggo
-R. Pujasmara

Menangisi Bumi

Bulan tanpa perasaan
Mata langit tak meneteskan hujan

Jurang jiwa mungkin harap
rinai tangis jatuhlah sahaja
walau bila hati bagai tanah merah
biarkan air berlalu di tebing yang curam
membakar puing-puingnya kemerahan
asal jangan keras menghitam
membolak-balik tanpa alasan

Mengapa hidup harus seperti Desember
berjalan jauh melupakan Januari
bila akhirnya bertemu kembali

Mungkin ada isyarat
bumi sudah lelah menumbuhkan
karena banyak derita ditanggung 
hingga kelak tiada tertampung

Semoga suatu ketika
awal tahun kan kembali
hingga air mata 
menangisi bumi

Yogyakarta, 9 Desember 2013
-R. Pujasmara