Tentang Kita

Tentang kita untukku:
 
Mengapa ada rasa yang berbeda
Hanya setelah beberapa kata yang tak jadi terujar
Mungkin karena angin sore itu begitu halus
Mungkin karena langit senja itu betapa biru
Tak seperti biasa
Tak sebagai seharusnya
 
Padahal ada permintaan yang belum tersampaikan
Meskipun masih tersisa harapan yang belum terkabulkan
Mungkin nanti ada waktuku untuk berduka
Mungkin kelak ada masaku untuk bersuka
Tidak ada alasan untuk menyalahkan
Tidak ada tujuan untuk menyesalkan
 
Sekarang, aku hadapi itu perbedaan
Karena perubahan yang terlalu cepat aku ciptakan
 
 
Tentang kita untukmu:
 
Mungkin jalan pikiran tidak pernah sama
Atau memang ini terlalu khusus untuk dimengerti
Tapi, entahlah
Pesanmu menandakan aku tak boleh banyak bicara dulu
 
 
“Sebenarnya aku hanya berharap kita tidak pernah berbeda dalam rasa dan masa”

Karanganyar, 8 November 2012
-R. Pujasmara

Berlayar

seimbangkah kita
pada bahtera bahtera yang kita naiki
mengarungi samudera badai
menumbukkan karang karang ke haluan
 
terkadang kemudi tak dapat terkendali
di saat tiang tiang layar kita tumbang
kemudian kita hilang
menjadi satu dalam biru
 
namun badai tak berkunjung selamanya
ada waktunya mentari dapat masuk ke dalam penjara hati
membebaskan suka yang terbelenggu
melenyapkan duka yang murka
 
rasakan angin-angin yang menghembus
deru yang menggebu
dan karang karang yang berdiri tegak
kembangkan layarmu lalu milikilah samuderamu
 
jika kita telah mengangkat sauh
tuk dermaga berikut kan berlabuh
tak ada kata menyerah meski raga berpeluh
mari kita berlayar jauh

Karanganyar, 22 Oktober 2012
-R. Pujasmara

Hujan Itu Me…

Hujan kini telah turun
dekat sangat saat tengah gelap
titik sesaat aku diam
 
Tiba-tiba sukacita datang
hampiri tanah pasir wukir
kering keras kerontang keretakan
 
di jalanan kemudian
jatuh tetes rintik gelombang pasang
kulihat bayangmu
di sela-sela lingkaran air yang menyapu
 
Lalu menyebar dedamaian
di bumi, ini waktu
 
Tubuhku lelah sudah
bagaimanapun
hitungan hari kini datangnya sudah
Hujan! Kutunggu kau sudah semenjak bulan muda
 
Sekarang telah waktunya manusia terlupa
terlelap dalam dekap
hangat nikmat mimpi manis
 
Esok ‘kan terlihat rama-rama
menyambut mekaran bunga-bunga
nyanyian burung di atas cempaka
dan tangisan mula kehidupan
 
Lagi…
sampai kemarau hingga penghujan tahun depan
dan tahun depannya lagi
dan seterusnya
sampai ‘kan akhir dunia
 
Sebab hujan itu membuatku ….
terlalu sulit diungkapkan

Karanganyar, 10 Oktober 2012

Setelah dalam Tidurmu Kau Tersenyum

Pesanku sudah terlampau larut untuk kau baca
Seseorang yang tidur dalam senyumnya
pulas, terlupa akan bumi manusia
Mimpikan indah, jika boleh kuharap
 
“Gelap ini pukul dua puluh dua tepat aku…
…berdiri sedekat mungkin pada tidurmu,
Bermunajat, semoga engkaulah…
…yang kukasihi dikasihi-Nya”
 
Bila kutahu Tuhan kabulkan pintaku
Semoga kau adalah
orang yang pantas ku doakan
tuk aku menunggu sedekat mungkin pada dirimu
 
Dalam gulita ini
kujagakan batas-batas impian
kujauhkan siksa-siksa sedihan
kubukakan sukacita nyataan
 
Bila lalu Tuhan yakinkan teguhku
lalu kita nanti berbahagia bersama
Semoga kau adalah:
Lalu kusebutkan namamu
 
Kuberikan pelukku meski semu
tuk ganti selimutmu yang terlanjur membeku
lalu sedikit tersenyum
senyum rupa ironi sebuah doa


Karanganyar, 28 Agustus 2012
-R. Pujasmara

Mungkin yang Terakhir

Prolog:
Aku bukan orang besar kepala
yang dengan tanpa perhitungan
dan hanya mabuk akan kemenangan
 
1.
Aku mungkin yang terakhir
dari suku ini di mana aku dilahirkan
atau barangkali aku cuma benteng dari sebuah harapan
yang membuat leluhurku duduk bersatu.
sebenarnya, ku tidak tahu tinggal berapa tersisa
sehabis kawan-kawanku gugur di tangan bala bahaya
yang tidak menyerang, namun mengalahkan.
 
2.
Nanti kalian juga mungkin padaku
datang bawa bujuk rayu
agar kuserahkan kubur nenek moyangku
dan hancurlah suku bangsaku
sebab kalian tahu aku tak punya anak cucu
untuk kutidurkan dalam pelukanku
dan kunyanyikan tentang ayahku dan ayah dari ayahku
yang menjaga batas-batas pembelaanku.
 
3.
Pesanku pada kalian yang akan mengalahkanku:
“tapi aku akan tetap berdiri
di gunung-gunung tinggi
menanti kalian sambil bertahan
meneteskan peluh perjuangan”
 
4.
Namun jangan kalian pernah lupa
akan akar yang kutanamkan
yang telah kupupukkan padanya:
“jika kamu bangun suatu waktu
ambillah sari dari tanah-tanahku
tunjukkan kaulah pohon suku bangsaku
yang bawa darahku meski lahir dengan tuan yang baru”
 
Epilog:
Mungkin tuturku hanya akan jadi abu
namun masih bisa terbang tinggi
oleh angin yang pernah jadi nafasku.

Karanganyar, 24 Juni 2012
-R. Pujasmara

Terlalu Berbeda

Mengapa sayapnya tetap berputar
Walau tak satupun kata kuucap padanya
yang begitu tegar untuk berdiri
menyenandungkan lelagu bernada hujan bersyair pelangi
kepada aku yang hanya terpejam.
 
Musik tetap mengalun
Harpa dan biola ikuti iramanya
Ia tunduk membisikkan pelan
“Dengan apa hatimu kan kupenuhi?”
 
Lirih, tajam di antara riuh gelombang sukacita
masih aku tak bisa merasa
Aku tahu tak bisa menjawabnya.
 
Kemudian ku berdiri, berpaling
melangkah tinggalkan ribuan yang datang
menjadi satu yang pergi.
 
Aku di luar opera
menjadi yang sebenarnya
menyedihkan, di jalan aku tak tahu
sayapnya berhenti berputar
lagunya selesai dimainkan
Yang aku tahu
aku tak mau mendukakan
Namun demikian
aku memang tak bisa membahagiakan
Sebab tahukah dia? Aku terlalu berbeda.
 
Manisku sendiri tertelan
Pahitnya yang kutuangkan
perlahan mengering namun tertinggal.

Karanganyar, 30 Maret 2012
-R. Pujasmara

Maret di Akhir Tahun

Kutanya pada cakrawala bumi
mengapa angin sore ini begitu lembut
halus memisahkan daya dan ciptaku
Dedaunan cemara
satu demi satu gugur
kemudian tinggi terbang lagi
dan akhirnya jatuh merapuh
 
Tanah penuh bunga kemerahan
di antara rendah rerumputan
menjadi muara segala derita dan bahagia
meski kadang menabur duka
memisahkan yang tinggal dan tersisa
pada khayal dan nyata
 
Banyak yang terjadi di bumi
Segala yang tercipta tak abadi
seperti siang datang dan pergi
seperti malam datang dan pergi

Karanganyar, 24 Maret 2012
 -R. Pujasmara

Bumi Hangus

Mungkin akan tiba masanya
membunuh jiwa-jiwa yang restui kelahiran kita.
Waktu kita tumbangkan satu demi satu
dengan bangganya,
menyayat lalu membakarnya,
hingga abu pun tak tersisa.
 
Lalu kita mulai menggali,
sebab tiada harapan di permukaan.
Terhentak sadar, bahwa itulah kubur sendiri.
 
Sementara dahulu,
mereka yang lurus dan tak kuasa melawan, kita tinggalkan.
Mereka yang melawan, kita kalahkan.
 
Mungkin akan tiba waktunya
menjarah bumi tanpa peduli.

Karanganyar, 6 Februari 2012
-R. Pujasmara

Sekali Lagi Hujan Turun

Ingatlah cerita
yang tersambung duka cita dan air mata
tentang kesederhanaan akan ketidakmengertian
takdir yang tak boleh kita kejamkan.
 
Sekali lagi hujan turun
membentangkan gelap di sekujur dunia
di antara prahara derita murka yang tumpah
Terdiam menyaksikan
darah menghitam
kulit membiru
dan jemari yang berubah kelabu
Meratap pada angkasa
merendahkan diri pada pertiwi
kepada derasnya air dia berkata:
“Mungkin tlah jadi akhirnya
oleh aku yang tersesat
Karena aku takkan mampu bangkit lagi
bukan lagi rumah tempatku kan kembali”
 
Itulah cerita
yang tersambung duka cita dan air mata
tentang ketidakmengertian akan kesederhanaan
takdir yang tak boleh kita kejamkan.


Karanganyar, 1 Februari 2012
-R. Pujasmara