Yang Hilang Ketika Hujan

Terang seperti kabut dari pagimu
membawa percik menerpa dinding segala tenda
menghalangi kepulan uap terhirup di atas bara.
Kelam seperti gelapmu bangunkan bintang
tidurkan panas matari di peluk kantukmu.
Nyala seperti amarah yang terus jatuh
habis ditelan sisa jejak telapak.
 
Kala terbenam sang biru
debu-debu yang dingin tertiup
Petir merobohkanku di atas namamu
yang tak pernah kembali
bertemu denganku lagi
karena tak boleh memiliki
rindu kenangan yang pergi
 
Segala beban
angan masa depan
 
Air mata yang kusimpan dalam
ternyata hanya menjadi himpunan
yang tak urung hancur beterbangan

Yogyakarta, 11 Maret 2015
-R. Pujasmara