Jalan Raya Berlubang

Gigimu banyak mengunyah bunga roda
membunuh tikus got penyeberang
mendebukan keras bebatuan
mendidihkan kubang
 
Aku yang tak berkuasa hanya menutup muka
sebab lihai tanganmu dari jauh sekali terasa kaku
bagai bulan permata dan matahari berlian teteskan salju
 
Ingatkah kala palumu menyederhanakanku
menjadi butir yang lebih berpasir
dan ketika apimu menaikkan petirku
menjadi minyak yang lebih melekat
 
Sungguh pun aku telah bahagia bila tetap menjadi aspal beku
namun lebih indah bila dirimu kembali membakarku
menutup derita dengan cerita baru


Yogyakarta, 11 September 2014
-R. Pujasmara