Sepulau Rindu untuk Meirina

Dalam kasih, sedetik rindu, waktu yang terasa begitu beku
menyampaikan doa-doa yang terbata.

Ingin kuceritakan padamu
betapa malam ini begitu mempesona saat ia hanyut oleh pagi.

Fajar yang lahir di padang tempat kita menumpahkan cinta
membangunkan Pohon Rasamala Tua yang tehenyak bisu.

Ia menatap kosong pada kerasnya Lawu bertanya-tanya berangan:
Kapankah kita akan kembali duduk berteduh dari sengat matari dan timpaan hujan.

Aku tak kuasa menatapnya saat ia tahu bahwa setelah sekian lama,
pada hari ini aku datang sendiri tanpa derap langkahmu menemani.

Pohon Rasamala Tua berkata rindu.
Dititipkannya bunga dan embun pagi 
tuk kau cium harumnya dari dunia yang tak tersentuh mata

“Bukankah kau paham ilmu kayu?”, kata Pohon Rasamala Tua tersedu.
Pada waktu itu aku memandang tak mengerti
sampai akhirnya detik ini aku menyadari
bahwa ia simpan nafasmu dalam relungnya.

Dalam sepi aku berpamitan pada Pohon Rasamala Tua
dengan janji yang belum kuketahui cara untuk menepatinya:
“Percayalah, aku akan kembali membawa kenangan yang kau kira sirna.”

Dari Pohon Rasamala Tua di Gondosuli aku mengitari bumi.
Mengunjungi Sindoro, Semeru, Merbabu, Merapi, dan semua
yang memperlihatkan kita indahnya cakrawala seusai badai,
yang mengajarkan kita tentang keikhlasan menerima apapun hasilnya,
yang menggerakkan kita untuk selalu mengejar mimpi,
dan mengingatkan kita untuk selalu kembali menapaki semua liku jalan yang pernah kita susuri.

Maka sepulau rindu kusampaikan padamu, 
dari mereka yang meyakini
bahwa cukup dengan kau pernah ada,
kau akan selalu ada.

Yogyakarta, 28 Februari 2017
-R. Pujasmara