Mungkin yang Terakhir

Prolog:
Aku bukan orang besar kepala
yang dengan tanpa perhitungan
dan hanya mabuk akan kemenangan
 
1.
Aku mungkin yang terakhir
dari suku ini di mana aku dilahirkan
atau barangkali aku cuma benteng dari sebuah harapan
yang membuat leluhurku duduk bersatu.
sebenarnya, ku tidak tahu tinggal berapa tersisa
sehabis kawan-kawanku gugur di tangan bala bahaya
yang tidak menyerang, namun mengalahkan.
 
2.
Nanti kalian juga mungkin padaku
datang bawa bujuk rayu
agar kuserahkan kubur nenek moyangku
dan hancurlah suku bangsaku
sebab kalian tahu aku tak punya anak cucu
untuk kutidurkan dalam pelukanku
dan kunyanyikan tentang ayahku dan ayah dari ayahku
yang menjaga batas-batas pembelaanku.
 
3.
Pesanku pada kalian yang akan mengalahkanku:
“tapi aku akan tetap berdiri
di gunung-gunung tinggi
menanti kalian sambil bertahan
meneteskan peluh perjuangan”
 
4.
Namun jangan kalian pernah lupa
akan akar yang kutanamkan
yang telah kupupukkan padanya:
“jika kamu bangun suatu waktu
ambillah sari dari tanah-tanahku
tunjukkan kaulah pohon suku bangsaku
yang bawa darahku meski lahir dengan tuan yang baru”
 
Epilog:
Mungkin tuturku hanya akan jadi abu
namun masih bisa terbang tinggi
oleh angin yang pernah jadi nafasku.

Karanganyar, 24 Juni 2012
-R. Pujasmara