Kelam

Menggapai meraba bayang
di suatu tempat di ujung ilalang
oleh api aku berlumur
dingin tetapi pada jemari
 
Ada pohon cantigi terhalau
untuk serpih angin dikibaskan
meski semua bayang diam belaka
malah kini tak bisa ku kena
 
Bayangmu mengapa sunyi?
Tida seperti kamu kemarin
kamu sekarang jauh di mukaan samudera
di sisi lembah kita terpisah
 
Haruskah ku marah pada pagi karena datang?
 
Aku rindukan malam panjang
sebab, kita semua tinggal bayang
aku, kita, satu, jiwa
 
Mengejarmu suatu kali
Aku menunggu!
Hingga dengus marah, duka murka!
Sampai hilang dan meratap
 
Sadar bahwa
hanya malam satukan kita
di mimpi, di hitam bayang-bayang

Karanganyar, 27 April 2013
-R. Pujasmara