Pembunuh

Masa iya, aku hendak hargai kehidupan?
Sebab kematian yang begitu saja
harusnya kemarin aku menyapa dengan sepenuh isi bahasa
atau merangkul dengan sebanyak hitungan
yang disisakan benak pada jemari
 
Maaf.
Iya.
Aku kemarin tidak seharusnya bersikap seperti

Muncul tangisku hentikan hati yang terucap
Senyum itu, akh,
mengapa kita dahulu sering sekali tersenyum
dan tanganmu yang merengkuh
 
Aku sering berkata
mengapa aku harus membiarkanmu hidup.
Mungkin nanti, habis ku bunuh seorang yang lain
seperti waktu ku bunuh hujan, dulu sekali,
biarlah ada kematian buatku
dan perpisahan kita
 
Bila tiba muncul darahku hancurkan dada
yang menyimpan nyawa luka itu, akh,
mengapa kita dahulu sering sekali terluka
dan yang merobek leherku itu
 
Apa nanti aku dan kamu merasa merindukan ketidakadilan?

Karanganyar, 29 September 2013
-R. Pujasmara