Dalam badai ada lilin
yang mengantarkan hal terhina
dari bintang yang diliputi mendung
Dalam hina
ada hangat yang paling dingin
yang diburu tangan-tangan dingin
agar sekejap tangan-tangan itu
menjadi dingin yang paling hangat
Dalam hina
bintang itu membawa bayang-bayang
hitam yang terlihat dalam gulita
itu kau yang tak pernah pulang
tiba-tiba saja tiba
Namun kau datang dalam kehinaan
cahaya bintang yang diliputi mendung
sedang ia masih dalam kemuliaan
gelap yang diliputi nyala hidup
ia berharap dalam badai itu
meski nyatamu pergi bayangmu hadir
aku tertawa sebab tahu,
mana yang terlebih dahulu berlalu
lilin padam atau badai redam
ia tentu akan tetap menangis, kehilanganmu lagi
yang mengantarkan hal terhina
dari bintang yang diliputi mendung
Dalam hina
ada hangat yang paling dingin
yang diburu tangan-tangan dingin
agar sekejap tangan-tangan itu
menjadi dingin yang paling hangat
Dalam hina
bintang itu membawa bayang-bayang
hitam yang terlihat dalam gulita
itu kau yang tak pernah pulang
tiba-tiba saja tiba
Namun kau datang dalam kehinaan
cahaya bintang yang diliputi mendung
sedang ia masih dalam kemuliaan
gelap yang diliputi nyala hidup
ia berharap dalam badai itu
meski nyatamu pergi bayangmu hadir
aku tertawa sebab tahu,
mana yang terlebih dahulu berlalu
lilin padam atau badai redam
ia tentu akan tetap menangis, kehilanganmu lagi
Yogyakarta, 28 Januari 2015
-R. Pujasmara