Bilang Tadi Saya Kemari

Sore itu dalam nuansa jingga
aku telah memenuhi tekad bulat tuk datang
mengunjungi rindu yang mengundang
dikirim dari sebuah toko buku
punya sahabat lama
satu dari yang tercinta.
 
Aku masuk mengharap obat luka hati
tanpa suara berderit pintu
setelah menahun tahan menunggu.
Namun rindu diletakkan pada sendu
sekadar sungging senyum penjaga menyapa
di hari kerinduan ini ia tidak berada.
 
Demikian meski tetap aku membeli
tunaikan janji manis saat belia
sekotak pensil warna sederhana
tuk lukis puisi yang kini harus kata demi kata
satu tiap kali inspirasi
karena secepat itu hilang lagi.
 
Aku kembali tuk kehilangan
cinta yang diinginkan cinta
tapi ada satu yang tersisa
pada etalase yang mengangguk setuju
tentang yang kuucap lirih
untuk pertemukanku dengannya lain kali


Yogyakarta, 30 Januari 2015
-R. Pujasmara