Dendam

Seorang pemuda
di antara usianya yang belia dan dewasa
menatap mega
Tangannya mengepal
tiada sepatah pun kata diucap
namun sorot matanya memberi tahu:
Ada dendam yang harus ku balaskan
 
Berhari hari ia berjalan
menghancurkan hati
memecah darah iga-iga
dalam ketidakmengertiannya memimpin
berpedangkan gigih bertamengkan pilu
 
Hingga dewasa
tatapannya masih sama
hingga ia tetap tak tahu
apakah arti pembalasan
dan kepada dendamnya menuju
 
Mungkin tiada lagi yang lebih pilu
dari kesalahan sebuah pelampiasan
Sebab siapa yang mati?
Adakah yang mengerti?
 
Hari ini ia
menghujamkan pisau karang
yang tumbuh di dalam hatinya

Karanganyar, 17 Maret 2013
-R. Pujasmara