Di antara ribuan kata
Ku ucap mantra bertuah
Mengharap turunnya wahyu
pada meja-meja kayu
tempat muara beribu ilmu
Di seberang mata-mata itu mengawas
Tiap sorotnya mengarah
pada sikap yang menjatuhkan
Di tempat kepala tertunduk
dengan semua berucap
urat kejang mengepalkan diri
beradu keras darah di nadi
Oh, bagai tak berguna kitab japa mantra yang ku baca
Dan sejuta malam berlalu
mengapa tiada sebuah ingatan
apa jawab dari sebuah tanya
Sementara secarik naskah mungil itu tertawa
sedari tadi kudiamkan tanpa upaya
Haruskah menunggunya?
Ku ucap mantra bertuah
Mengharap turunnya wahyu
pada meja-meja kayu
tempat muara beribu ilmu
Di seberang mata-mata itu mengawas
Tiap sorotnya mengarah
pada sikap yang menjatuhkan
Di tempat kepala tertunduk
dengan semua berucap
urat kejang mengepalkan diri
beradu keras darah di nadi
Oh, bagai tak berguna kitab japa mantra yang ku baca
Dan sejuta malam berlalu
mengapa tiada sebuah ingatan
apa jawab dari sebuah tanya
Sementara secarik naskah mungil itu tertawa
sedari tadi kudiamkan tanpa upaya
Haruskah menunggunya?
Surakarta, 18 Maret 2013
-R. Pujasmara