tatap ruang itu beranjak kosong
intipkan berkas-berkas siratan mendung
untuk bayangkan turun apa yang nanti
dari jendela yang tak mengenal cahaya
jendela itu meringkuk saat rasa diusap padanya
dengan ujung jari, pelan dari tinggi lengan
perlahan seperti ada waktu yang dinikmati
usapan dialihkan lalu
dinding yang gelap dingin
dari tepi ke tepi mencari
cahaya lampu yang mungkin sembunyi
merebah lelah, melesu sendu, menduduk bungkuk
dalam tunduk mencari, di mana kamu
dalam redam hujan lalu terisak
kamu tak pulang lagi, karena diruntuh gemuruh
ia tidak tahu, kamu tak akan pulang lagi
ia tidak tahu mengapa
intipkan berkas-berkas siratan mendung
untuk bayangkan turun apa yang nanti
dari jendela yang tak mengenal cahaya
jendela itu meringkuk saat rasa diusap padanya
dengan ujung jari, pelan dari tinggi lengan
perlahan seperti ada waktu yang dinikmati
usapan dialihkan lalu
dinding yang gelap dingin
dari tepi ke tepi mencari
cahaya lampu yang mungkin sembunyi
merebah lelah, melesu sendu, menduduk bungkuk
dalam tunduk mencari, di mana kamu
dalam redam hujan lalu terisak
kamu tak pulang lagi, karena diruntuh gemuruh
ia tidak tahu, kamu tak akan pulang lagi
ia tidak tahu mengapa
Yogyakarta, 22 Januaari 2015
-R. Pujasmara