Merangkak riuh, menegak sakti
Di malam gelap dia tenungkan jiwa
demi tiap lengan mengepal dan bibir hitam menyalak:
Dia! Dia! Dia!
Di malam gelap dia tenungkan jiwa
demi tiap lengan mengepal dan bibir hitam menyalak:
Dia! Dia! Dia!
Dia bicara: Aku datang
Dengar tawanya antara jerit api
cari gembalaannya setan dunia
Dengar tawanya antara jerit api
cari gembalaannya setan dunia
Kini ia tak lagi tidur di sanggar pamujan
Makan pun tak lagi sesajian
hanya arta terhambur
dan tangisan para belia
Makan pun tak lagi sesajian
hanya arta terhambur
dan tangisan para belia
Di tengah lapang ia berdiri
segala penjuru penyembah tiba,
dia bicara: Ayo kita menari di atas api!
segala penjuru penyembah tiba,
dia bicara: Ayo kita menari di atas api!
Lihatlah mereka jilat merah besi
Keringat darah tersiram
Menculik hati dan merenggut jiwa
Sisakan badan-badan tergerak seperti lalang diterpa
dan keringnya memercik bara
Keringat darah tersiram
Menculik hati dan merenggut jiwa
Sisakan badan-badan tergerak seperti lalang diterpa
dan keringnya memercik bara
Sudah biarlah atau jangan biarkan mereka bermimpi?
lumpuhkan masa, ledakkan surya,
dan bicara neraka seolah surga
lumpuhkan masa, ledakkan surya,
dan bicara neraka seolah surga
Jangan sampai terbawa mati
di tengah-tengah buta hati
Katakan:
Jauh! Jauh!
Kamu manusia
Tapi kamu berhala!
di tengah-tengah buta hati
Katakan:
Jauh! Jauh!
Kamu manusia
Tapi kamu berhala!
Karanganyar, 3 Mei 2013
-R. Pujasmara