Suicide

Ah aku mau belajar melupakanmu
Mungkin nanti debu-debu dalam angin kuajari caranya tuk melupakan terbang
Sebab di luar raga ada nyawa yang berteriak keruh
sampai jenuh mega mendung di ujung jalan surya
 
Bagaimana caranya menghapus prasasti yang terukir dalam kalbu
Haruskah kutemui pemahat baru
menghadapi ancaman bagi hati ‘tuk semakin ciut
atau kuhancurkan hatiku yang terlalu besar untukmu
Aku masih bisa membaginya dengan malam kelam
 
Seperti membaca cerita lama
Aku dirayu gita yang penuturnya maya
Dinding di pungguk memeluk beku dingin suara
 
Kau seperti tatap wajah rembulan kepada hitam senja
Aku terkapar di pembaringan bicara sendiri,
bicara kerinduan
untuk terbang kepada serat-serat tali angkasa
mencari rangkaian bunga kartika di telaga langit
berbuah matahari hujan dan pelangi
turun di pucuk lembah merah
 
Seiring sesal terpahat di ujung jiwa
dengan hati sebening bunga melati
Seputih air mata yang lupa memandang
ku telah bikin tinta lepas dari suratnya
dan segera kertas itu lebur dalam air ini
seperti mati ketika kupaksa tegak racun biru
Aku disambut api
 
Tak semuanya indah seperti bunga kemuning di lereng gunung timur

Karanganyar, 7 Mei 2013
-R. Pujasmara